Cerita Dewasa: Aku Jadi Pelampiasaan Nafsu Ayah Tiriku

202187 views
Agen Betting Terpercaya Obat Pembesar Penis
Obat Pembesar Penis Obat Pembesar Penis

Cerita Dewasa: Aku Jadi Pelampiasaan Nafsu Ayah Tiriku – Tanpa kusengaja dan tanpa kuharapkan semua ini terjadi bagai air mengalir namun amat memilukan hatiku. Namaku Rani Ameli usiaku 15 tahun saat ini, sebagai gadis remaja aku beruntung punya wajah dan body yang cantik, dengan rambut lurus panjang dan kulitku putuh mulus, ditambah lagi bola mataku yang indah serasa hampir sempurna penampilanku. Sehingga banyak cowok yang mencoba mendekatiku dan coba mencuri perhatianku. Namun tak satupun dari mereka yang bisa buat aku untuk menerima perhatian mereka sipencari cinta itu (bukan berarti aku tidak suka pacaran ).

Cerita Dewasa Ngentot Gadis Berjembut Lebat Cerita Dewasa: Aku Jadi Pelampiasaan Nafsu Ayah Tiriku Cerita Dewasa: Aku Jadi Pelampiasaan Nafsu Ayah Tiriku 4b7f5a33 6413010e cuchot

Cerita Dewasa: Aku Jadi Pelampiasaan Nafsu Ayah Tiriku – Sebelum aku menceritakan pengalaman pahit yang kualami, baiknya aku beritahu latar belakang keluargaku yang dulu serba kekurangan, aku adalah anak semata wayang, ayahku telah meninggal dunia karena sakit waktu aku usia 12 tahun, dan 5 bulan kemudian karena masalah ekonomi ibuku namanya Sadiem (usia 36tahun) menikah dengan duda usia 49 tahun dengan anak 2 laki-laki yang sudah dewasa, mereka adalah yang menjadi abang tiriku. Yang tertua bang Arif umur 28 tahun dan yang ke-2 bang Dani 26 tahun.

Dua-duanya masih melajang dan ternyata tidak menyukaiku hadir ditengah keluarga pak Wiro (ayah mereka dan menjadi ayah tiriku juga). Saat ibuku menikah dengan pak Wiro (pegawai PNS) aku baru saja lulus dari SD dan segera melanjut ke SMP yang ada dikotaku Medan Sunggal. Sementara bang Arif pengangguran dan bang Dani sudah bekerja sebagai security disebuah pabrik yang ada disekitar jalan Sunggal.

Hubungan ibuku dan ayah tiriku kian hari kian erat, dan ayah tiriku itu juga sangat sayang padaku dan sangat memanjakanku, karena pak Wiro tidak punya anak perempuan dan aku beruntung sangat dimanjakannya, dan ternyata hal itu membuat abang-abang tiriku manjadi iri dan akhirnya sangat membenciku, bahkan mereka gak segan-segan menempelengku walau hanya dengan masalah sepele yang aku buat.

Aku heran mengapa mereka gak sayang padaku padahal mereka gak punya adik perempuan dan harus nya mereka melindungiku dengan baik dan menyayangiku. Aku bukannya gak tau diri, aku juga nyadar kalo aku dan ibu hanya numpang dirumah mereka, dan aku juga tidak banyak meminta pada ayah, cuma beliau aja yang sangat sayang padaku dan suka membelikanku baju dan semua alat-alat sekolah yang kuperlukan.

Hari-hariku kujalani dengan ceria awalnya, selain memasuki ajaran baru sebagai siswi SMP dan aku juga merasa bahagia punya keluarga baru yang kehidupannya boleh dibilang cukup untuk keluarga sederhana seperti yang kami jalani waktu itu. Ibuku juga akhirnya punya kegiatan dengan bekerja sebagai penjaga kantin dikantor tempat ayah bekerja. Jadi tiap hari ayah dan ibu perginya bareng kalo berangkat kerja dan pulangnya juga bareng, pergi pagi jam 07 pulangnya sore jam 04 atau jam 05.

Aku sudah terbiasa pergi sekolah dengan naik angkot sendiri dan pulang sekolah juga gak dijemput. Yang selalu tinggal dirumah bang Arif karena dia nganggur gak ada kegiatan selain suka berolah raga dan pergaulannya juga agak buruk, suka mabuk dan pernah kata ayah kepergok makai narkoba. Kalo bang Dani walau punya pekerjaan tapi juga jarang pulang alias nginap dirumah temannya atau ntah dimana aku juga gak pernah tau.

Hingga suatu hari tibalah hal sangat memilukan pada diriku. Saat itu jam 02:30 sore, aku abis nyetrika seluruh pakain keluargaku, dan pakaian yang kusetrika akan kusimpan kelemari pakain masing-masing, pakain ibu dan ayah kusimpan ke lemari yang ada dikamar ayah dan ibu, pakaianku kusimpan dikamarku dan pakain abang-abangku kusimpan kekamar mereka (abangku ber-dua satu kamar). Terakhir aku akan menyimpan pakain abangku, aku melangkah kekamar bang Arif dan sungguh aku tidak menduga kalo didalam kamar ada orang, karena kutahu kalo sore biasanya bang Arif suka keluar dan jarang ada dirumah.

Kulihat pintu kamar tertutup tapi gak terkunci, maka aku menduga kalo didalam kamar emang gak ada siapa-siapa. Kudorong pintunya dengan kaki kananku karena kedua tanganku membopong banyak pakain, langsung aku masuk hendak menuju lemari pakaian, tapi segera saja langkahku terhenti karena ternyata bang Arif ada didalam sedang duduk menghadap komputer dan dia sangat terkejut meihatku, karena sangat jelas aku melihat apa yang sedang dia lakukan, dia sedang memagang sesuatu dibawah perutnya dan tangannya yang memagang sesuatu itu dia gerak-gerakkan seperti gerakan bergetar saat itu, dan celana pendek yang dia pakai aku lihat diturunkan sampai selutut.

Sungguh aku gak ngerti apa yang dia lakukan, tapi dia menjadi sangat marah padaku dan dia cepat-cepat membenahi celananya, dia rapikan sambil membelakangiku, tapi aku sudah jelas melihat kalo dia tadi menggenggam kemaluannya, karena terlihat jelas dihadapanku. Jujur aku juga sangat malu dan sangat takut saat itu. Tiba-tiba dia membentakku sangat kuat dan matanya melotot seakan mau menelanku, “hei tolol…dasar anak setan!”…bentaknya sangat kuat buat aku hampir mau menangis ketakutan. “kamu gak punya mulut ya…hah! nyelonong aja, dasar setan”. Aku gak berani jawab apa-apa selain gemetaran ketakutan, aku takut sekali. “cepat keluar”, bentaknya sekali lagi, dan aku langsung keluar, sementara pakaian yg kubawa belum sempat kuletakkan dan akhirnya kubawa kekamarku.

Didalam kamar aku menangis karena dibentak kuat, kuletakkan pakaian yg kubawa diatas meja kamarku. Rupanya tanpa kuduga bang Arif mendatangi kekamarku, dia berdiri dipintu kamarku dengan kedua tangannya diatas pinggangnya, matanya melotot marah menatapku. Saat itu aku sedang terduduk dipinggir kasurku, dan sungguh aku gak berani menatapnya. Lalu dia melangkah mendekatiku dan aku gak berani melihat kearahnya selain tertunduk takut…

“hei kampret…kau sudah lihat tadi ya…”, tanyanya dengan suara keras tapi aku gak berani jawab apa lagi lihat kearahnya, karena bang Arif itu mau menempeleng, galak amat orangnya.
“apa yang kau lihat tadi?” tanyanya lagi buat aku makin kebingungan dan takut.
“aku tanya…yang kamu lihat tadi”. Aku tetap diam karena gak tau harus jawab apa, dan tiba-tiba dia bentak aku lagi,
“jawab…apa yang kamu lihat tadi..”, “aku gak lihat apa-apa bang”, jawabku dengan suara pelan dan air mataku ngalir sendiri basahi pipiku (karena memang aku gak ngerti apa maksudnya).

Tiba-tiba tangan bang Arif megang leherku dan wajahku diangkatnya, aku lihat wajahnya sangat marah dan seram.

“jawab sekarang apa yang kamu lihat tadi”, dan ntah napa aku barani jawab,
“lihat yang mana bang…aku gak ngerti maksudnya”.
“coba bilang apa yang kamu lihat tadi pada abang, apa yang sedang abang lakukan…”, aku semakin takut, karena jujur aku gak mungkin bilang apa yang aku lihat tadi, aku malu bilangnya sumpah.

Lagian itu menjijikkan, tapi dia tetap memaksaku untuk menjawab, lalu kubilang kalo aku gak lihat apa-apa, tapi abangku gak percaya dan tetap memaksa. Aku heran napa dia memaksaku harus bilang apa yang terjadi, napa dia harus menanyakan itu, apa dia juga gak malu kalo aku jawabnya jujur…

Dan ntah napa kok bang Arif tiba-tiba lembut dan duduk disebelahku. Terus dia belai rambutku, dan jujur itu buatku bingung, tapi tetap saja aku takut padanya, karena dirumah dialah orang yang paling aku takut dan juga bang Dani. Lalu dia cerita dan sedikit curhat sambil yakinkan aku agar aku gak usah takut, dia bilang kalo yang dia laukukan tadi namanya onani, dan dia bilang itu dilakukan laki-laki kalo lagi kesepian. Sebenarnya aku gak gitu ngerti tentang itu.

“mumpung adik tadi sudah lihat abang onani, dan sudah lihat semuanya…mending abang kasih tau dan jelaskan semuanya, tapi dengan syarat harap jaga rahasia”, dengar perkataannya aku jadi semakin malu dan aku gak mau dia jelaskan itu, aku takut.
“adek gak usah takut ya…kalo adek mau bantu dan nurut sama abang, abang gak akan marahi adek lagi”. Jantungku berdetak kuat, sungguh apa yang sedang terjadi dan apa maunya abangku, aku berpikir kalo ini gak benar, aku ingin sekali berlari keluar kamar karena aku mengira kalo abangku pikirannya mulai negatif sudah.

Tiba-tiba dia pegang tanganku sambil bilang kalo aku gak usah takut dan nurut aja biar dia gak marah katanya. Dia bilang biar aku juga ngerti tentang sex, biar aku gak penasaran, gitu dia bilang. Aku bilang gak usah, aku gak mau, dan aku bilang aku mau beli sesuatu keluar karena aku emang sangat ketakutan jadinya. Tapi dia kuat pegang tanganku, dia bilang jangan kemana-mana, dia bilang kalo dia cuma mau ajarin aku sesuatu dan itu perlu aku tau.

“abang kesepian dan adik maukan bantu abang, gak apa-apa kok cuma bantu abang nyelesaikan sekalian adek juga bisa belajar”,
“bantu abang ngapain”, aku bilang sambil lihat wajahnya, tapi tanganku ditariknya kepahanya.

Rupanya bang Arif sudah gak karuan pikirannya, dia peluk aku sambil tangan kananku diletakkannya tepat diatas selangkangannya, hingga tanpa kutau apa maksudnya tapi aku bisa rasakan kalo diatas gundukan celananya ada sesuatu. Oh Tuhan…tidaaak…ini tidaklah pantas, aku tidak mau terima ini, aku tau kalo bang Arif mau ajarkan sesuatu yang belum pantas kuketahui sebagai putri remaja usia 13 tahun. Aku tau kalo dia sesungguhnya ingin ajarkan pelecehan.

Rasa takut berkecamuk dibenakku karena satu kecupan nempel dibibirku,

“uumh…uuuummh…”, mulutku seperti disedot mulutnya dan aku sulit rasanya untuk mengatakan sesuatu, aku terus berusaha menghindar dari ciumannya tapi tetap aja aku gak mampu karena saat itu tangannya yang lain pegang kepalaku dengan kuat dan tangannya itu menarik kepalaku kewajahnya dengan sangat kuat.

Gak salah lagi tebakanku ini adalah pelecehan padaku (gadis dibawah umur), saat dia lepaskan sedotan mulutnya dari mulutku

“jangan merontah atau melawan…” ucapnya dengan suara datar.
“kenapa abang seperti ini padaku, aku gak bisa bang…aku masih anak kecil…”, mohonku padanya dengan suara serak menahan tangisku,

tapi airmataku sudah menetes dipipi, aku buat wajahku sesedih mungkin agar dia kasihan padaku, tapi tetap saja tanganku dipegang kuat dan ditempelkan diatas gundukan kemaluannya.

“kamu bukan anak kecil lagi sayang…kamu sudah remaja…sudah saatnya kamu tau” jujur aku takut tapi ada sesuatu yang aneh kurasa saat aku dengar dia panggil sayang padaku, dan menurutku pasti dia mulai iba padaku dan akan melepaskanku, dan baru kali ini ada orang panggil sayang padaku selain ibuku dan almarhum ayahku.

“adek gak bisa bang…biarlah adek pergi saja, lepaskan adek bang”, aku kira dia kasihan padaku tapi rupanya nggak.

Lalu dia bang Arif mulai ancam aku, aku diminta diam dan harus menuruti perintahnya.

“kalo kamu gak mau lihat bang Arif marah dan gak mau kena pukul, kamu harus turut, ngerti kamu!”,
“wajahmu gak jelek tapi hatimu jahat”,(jeritku dalam hati sambil menangis).

Akhirnya dia terus menyakinkan aku kalo yang akan diajarkannya tidak merugikan diriku atau siapapun, dia bilang toh suatu hari nanti aku juga akan lakukan hal yang sama kalo sdh dewasa nanti pada orang yang menjadi pilihaku (tapi sesungguhnya bhatinku sangat tidak setuju tapi juga aku takut kalo dia benar-marah nantinya).

“sekarang ikuti perintah abang, tutup kedua matamu dan jangan coba-coba sekalipun melawan…”, karena aku memang sangat takut, aku lakukan perintahnya.
“sekarang coba bayangkan apa yang kamu lihat pada abang dikamar abang tadi, bayangkan apa yang sedang abang pegang dan apa yang sedang abang lakukan, dan jangan bersuara sedikitpun”, dia katakan itu dekat ketelingaku sambil aku rasakan kalo tanganku mulai dimasukkannya kedalam celananya.
“ini gak benar, aku gak mauuuu…lepaskan akuuuu…”jeritku sangat kuat dalam hati.

Aku berharap sekali ada seseorang datang yang bisa menolongku saat itu, (oh ibu…oh ayah…dimana kalian, cepatlah pulang ibuu…) tangisku semakin menjadi dengan linangan air mata tanpa berani besuara. Sesuatu yang belum pernah aku pikirkan, sesuatu yang belum pernah aku lihat, sesuatu yang belum pernah aku bayangkan, juga sesuatu yang belum pernah aku sentuh…kini telah bersentuhan dengan tanganku, kini telah membuat pikiranku penuh tanda tanya. Bang Arif abang tiriku telah mengajarkanku kedunia orang dewasa yang sangat bertentangan dengan kemauanku.

Didalam celananya tanganku seperti dipaksa tangannya untuk menggenggam sesuatu yang aku rasakan seperti bagian tubuh, seperti daging kenyal yang keras, jantungku berdetak cepat gak menentu (mungkin juga aku sudah keringat dingin saat itu), sambil diciumnya pipiku dia bisikkan ketelingaku (mulutnya dekat sekali ketelingaku),

“pegang yang kuat sayang…gak usah malu-malu…abang yakin kamu suka”.
“cuih…” kuludahi dia dan kena wajahnya (tapi air ludahku tertahan dimulutku, karena aku memang gak berani melakukan itu).

Aku masih tetap diperintah untuk tidak membuka mataku, entah sampai kapan. Kini benda itu telah kugenggam…sangat besar, genggamanku gak bisa penuh karena tanganku gak cukup (kemaluannya sangat besar kurasakan). Walau perasaan takut tetap menguasai pikiranku, tapi aku masih bisa merasakan semuanya, dalam hati aku berkata…”inilah penis laki-laki, kemaluan laki-laki, penis itu terasa hangat ditanganku, terasa menegang dan sangat keras, dan terasa seperti berdenyut (jujur aku sangat takut membayangkannya) karena aku sadar penis yang aku pegang ukurannya bukan seperti penis anak-anak tetangga umur 5 tahun yang pernah kulihat saat mereka mandi hujan dengan telanjang.

Ini terasa lain dan tanpa kusadari aku jadi merinding saat memegangnya, aku membelai lembut penisnya seperti yang dia perintahkan…dari atas kebawah hingga kurasakan tanganku menyentuh bulu yang ada dipangkal penisnya yang sangat besar itu.

“pegangan adek enak…abang suka adek megangi dedek abang”, dia bilang gitu…dedek ? maksudnya apa (tanyaku dalam hati).

Dia buka celanannya dengan tangan kanannya mungkin, karena tangan kirinya tetap memimpin tangan kananku memegang penisnya.

” Sekarang coba buka matamu…”, ucapnya padaku sambil mencium pipiku, saat kubuka mataku dan kebetulan saat itu arah wajahku tepat kearah bawah arah pahanya, maka langsung terlihat dengan jelas sebuah benda sangat besar (yang dinamakan penis itu) berada dalam genggaman tanganku), dia lepaskan tanganku dari genggaman tangannya dan samakin jelas bentuk penis bang Arif kulihat.

Ya Tuhan malunya aku (bhatinku dalam hati), panjang dan besar sekali, warnanya coklat dan ada kepala botaknya sangat besar, ada bulu yang tumbuh sangat lebat disekililing pangkal penisnya. Benarkah yang kulihat (ucapku dalam hati). Bang Arif berdiri dan membuka kaos oblongnya, badannya timggi besar dan kekar dan saat dia membuka bajunya aku lihat penisnya bergoyang-goyang, sangat besar dan panjang.

Aku berpikir-pikir apa yang akan dia lakukan padaku selanjutnya, langsung aja aku berpikir kalo dia saat ini akan memperkosahku, akan menyakitiku, menodaiku. Tolong hentikan ini ya Allah…jangan biarkan dia memperkosahku, aku salah apa ya Allah…(doaku dalam hati), dan bang Arif juga membuka celana pendeknya juga celana dalamnya, bang Arif telanjang dihadapanku. Aku masih sempat berpikir untuk melarikan diri, aku gak boleh lemah, aku harus keluar dari kamar ini, aku gak mau dia memperkosahku.

Dengan cepat aku bergerak langsung berlari kearah pintu kamarku yang tertutup (tapi tidak terkunci), belum lagi aku sampai kepintu kamar tangan bang Arif dengan cepat menyambar tangan kiriku dan langsung memelukku dengan kuat dari belakang,

“aku sudah bilang jangan coba-coba lari dan tidak turut perintah”, ucapnya dengan suara geram tapi dia melepaskanku dari pelukannya dan tiba-tiba…”plak!!”, satu tamparan keras kepipiku yang lansung buat aku terjatuh.
“berdiri…”, perintahnya, dan aku berdiri dengan menahan rasa sakit yang amat-amat sakit dipipiku, dan
“cuih” langsung kuludahi mukanya (tapi tetap saja air ludahku tertahan dimulutku, karena aku memang gak berani melakukannya).
“cepat buka bajumu…semua…!”, perintahnya dengan seuara membentak.

karena takut dan tak ingin dapat pukulan lagi aku turuti perintahnya, sambil menangis dan buka baju, kulihat jam dinding dikamarku…masih jam 2:45 sore.

“Ibuu..ayah dimana kalian, cepatlah pulang…”, tangisku dalam hati.
“sini duduk..”, perintahnya padaku dan aku nurut duduk ditepi kasurku sementara dia berdiri dihadapanku, dekat sekali dia berdiri dihadapanku, dan pemandangan yang ada didepanku adalah bahwa penisnya dekat sekali kewajahku.

Dipegangnya penisnya yang sangat besar itu sambil memerintahku harus menuruti apa saja yang dia bilang. Aku diminta lagi memegang penisnya, setelah kupegang dia memintaku untuk mencium dan menjilati penisnya yang sangat besar itu, dia katakan kalo dia yakin aku bakal menyukai penisnya.

“dasar abang setan kau…” teriakku sangat kuat dalam hati.

Saat kuturuti perintahnya mencium dan menjilat penisnya, dia belai-belai kepalaku dan mulutnya tidak berhenti ucapkan kata-kata yang menyakitkan hatiku, aku bukan pelacur dan bukan anak yang mengerti sex. Lalu dimintanya aku memasukkan penisnya kedalam mulutku, dia bilang aku harus melakukannya seperti cara orang makan ice cream, dia ajarkan kalo aku harus menyedot atau menghisap penisnya, kulakukan perintahnya tapi hatiku menolaknya. Aku sudah sangat hina telah melakukan dosa yang belum saatnya aku lakukan.

Dia suruh aku agar memasukkan penisnya agak lebih dalam lagi kemulutku, tapi aku gak bisa lakukannya karena penisnya sangat besar dan gak muat kurasa dalam mulutku, jadi aku hanya bisa memasukkan sedikit ( mungkin hanya bagian kepala peninsnya saja yang muat dimulutku). Aku lakukan itu dengan tangisan dan air mataku terus menetes, tapi dia marah melihatku melakukan itu sambil menangis, diperintanhya aku agar menghentikan tangisku dan dia bilang kalo dia sayang padaku dan yakinkan aku kalo nanti aku bakalan suka dan menikmatinya.

“diemut sayang…sambil dinikmati, abang yakin kamu bakalan suka kalo kamu mau belajar menikmatinya, gak usah malu, abang gak marah kok, dan abang senang kalo kamu bisa menikmatinya”, ucapnya dengan suara lembut sambil kedua telapak tangannya membelai kedua pipiku.

“yang kuat sayang isapnya, dihisap sayang…”, pintanya padaku,
“sambil dinikmati ya sayang…uugh…enaknya sayang…terus gitu sayang, terus diemut yang kencang jangan dilepas…”. Dia pegang kepalaku dengan kedua tangannya, didorong dan ditekannya kepalaku kearah penisnya dan kurasakan penisnya semakin masuk hampir setengah dalam mulutku, tapi segera kurasakan mual dan mau muntah, karena dia memaksa penisnya masuk lebih dalam dimulutku, aku gak sanggup tapi tetap ditekannya kepalaku dan penisnya didorong masuk kedalam mulutku.

Aku mual dan mau muntah, airludahku terasa banyak keluar membasahi mulutku, penisnya terlalu besar, walau hanya masuk sedikit tapi aku jadi susah bernapas dan terus merasa mau muntah karena mual.

“ayo sayang…dimasukkan lebih dalam…”, ucapnya dengan tetap memaksa penisnya didorong lebih dalam kemulutku, tapi tetap saja hanya bisa masuk sedikit.
“ough…”, teriaknya pelan,
“jangan kena giginya dong sayang, yang enak dong emutnya…”, ucapannya makin buat aku sakit hati, menjijikkan sekali.

Sesaat kemudian dia melepaskan kepalaku dari tekanan kedua tangannya dan mencabut penisnya dari mulutku, lalu dia memerintahku untuk berbaring diatas kasurku dan dia duduk disebelahku. Saat itu yang ada dalam pikiranku adalah kalo aku akan diperkosah, tidak ada lagi harapan buatku untuk bisa menghindar dari nafsu buasnya. Aku hanya bisa terus berharap semoga ayah dan ibu cepat pulang dan semoga bang Dani atau orang lain ada yang datang kerumah dan dapat menghentikan semua ini. Lalu sesaat kemudian dia mulai beraksi, mulai meraba-raba setiap jengkal lekuk tubuhku (tapi posisinya masih tetap duduk disebelahku ).

Tiada yang bisa kuperbuat selain pasrah pada apa yang diperbuatnya atas diriku, aku hanya bisa merasakan setiap sentuhan tangannya dipahaku, sentuhan tangannya didadaku juga pada benda kehormatanku sebagai gadis perawan umur 13 tahun. Setiap sentuhannya membuatku risih dan sedikit membuatku merinding, apalagi dia melakukan itu dengan wajah tersenyum semakin membuatku merasa benci pada abang tiriku yang sudah penuh nafsu. Aku semakin takut kala dia mulai melebarkan pahaku, dia buka lebar sehingga dia bisa dengan jelas lihat vagina perawanku, bang Arif benar-benar sudah dirasuki setan pikirannya sehingga dia gak peduli sama sekali kalo tubuh yang sedang dia nikmati adalah tubuh seorang gadis perawan umur 13 tahun, adik tirinya sendiri.

Vaginaku dielus-elusnya dan kulihat dia sedang dalam posisi jongkok diantara selangkangan kedua pahaku, vaginaku dipertontonkan hanya demi nafsunya, saat dia merapatkan wajahnya kevaginaku, aku rasakan dan aku tau kalo dia sedang menjilati vaginaku,

“ough..” aku mendesah kegelian tapi sungguh aku tidak menyukainya dan aku jijik dengan semua ini.

Dia seperti mempermainkan lidahnya atas vaginaku dan itu membuatku gak tahan sampai-sampai aku menggeliat menahan geli. Wajahnya sekali-sekali dia benamkan diatas vaginaku dan tanpa kusadari kedua pahaku mengapit wajah dan kepalanya karena geli yang tak tertahankan.

Dia lakukan tanpa ada berbicara, tidak begitu lama kemudian dia menghentikan jilatannya dari vaginaku. Lalu abang tiriku itu merapatkan kembali kedua pahaku dan dia maju mengangkangi tubuhku dan mengarahkan penisnya kewajahku. Aku tau apa yang akan dia perbuat karena sedetik kemudian dia menyodorkan penisnya sangat dekat kemulutku, saat itu aku hanya berpikir pasrah dan harus menuruti kemauannya, karena kalau pun aku melawan gak ada lagi artinya.

“buka mulutnya sayang…abang pengen rasakan kontol abang dalam mulutmu…ayo sayang, abang tau kamu pasti mulai suka lihat kontol abang..”, ucapnya sambil menjulurkan penisnya ( yang saat itu sesungguhnya ada perasaan kagum waktu aku melihat penis abang tiriku sendiri ), penisnya menyentuh bibirku yang sengaja kututup rapat agar tidak masuk kedalam mulutku.

Tercium aroma yang belum pernah kubayangkan dari penisnya itu.

Mengapa mataku seakan gak bisa lepas menatap penisnya, saat ini aku begitu terpsona melihatnya, aku mencoba untuk membenci apa yang kulihat dihadapanku yang kini sedang menyentuh bibirku yang tertutup. Benarkah aku menyukai apa yang kulihat, apakah aku salah kalo aku juga kagum melihatnya…bhatinku tidak meminta melihatnya tapi mengapa ada perasaan lain dalam hatiku saat menatapnya dan mersakannya menyentuh bibirku. Tiba-tiba lamunanku terhenti saat bang Arif berbicara mengejutkanku, kulihat sorotan matanya tajam menatapku, dan aku tau itu pertanda bahwa bang Arif sedang marah ,

“abang gak mau paksa kamu buka mulut, tapi abang akan tetap menunggu sampai adek membuka mulut sendiri…”. Aku bingung karena kupikir sampai kapan posisinya begini berada diatas tubuhku dengan kedua pahanya mengapit wajahku, dan penisnya menegang sangat besar menyentuh mulutku.

Didorong-dorongnya penisnya pelan mencoba menerobos membuka bibirku, tapi aku tetap gak mau buka mulut, dan matanya tetap menatap tajam padaku. Aku tau kalo aku gak mungkin tidak menurutinya, bakalan terjadi hal yang bisa menyakitkanku nantinya. Maka kucoba menuruti membuka mulutku, (karena aku juga gak ngerti mengapa ada persaan suka melihat penisnya, mersakan apitan pahanya diwajahku dan memandang tubuhnya yang kekar tanpa pakaian ), bulu pahanya terasa dikedua pipiku, tapi aku gak mau bang Arif tau kalo aku merasa kagum padanya saat itu.

Segera kubuka mulutku dan dia makin menekan penisnya mencoba masuk kedalam melutku, ditekannya makin dalam dan memerintahku untuk mengulumnya, menghisapnya, aku kewalahan karena dia menekan lebih dalam, tapi aku gak bisa menelan penisnya lebih dalam karena ukuran penis bang Arif sangatlah besar, aku hanya bisa mengulum bagian kepalanya saja, dan aku lihat bang Arif menutup matanya menikmati emutanku pada penisnya, dan sekali-sekali dia mendesah panjang pertanda sangat menikmatinya.

Dalam hati aku sempat bertanya mengapa ada perasaan suka padaku saat melihatnya dan tau kalo dia sedang menikmati tiap hisapan mulutku, dan mengapa rasa takutku mulai pudar…dan mengapa aku tidak berhenti mengulum penisnya, apakah aku mulai menyukai permainan ini…ada banyak tanya dihatiku sementara mulutku terus mengulum penis abangku dan dia pun mulai menggerak-gerakkan penisnya keluar masuk dimulutku, dan makin lama gerakannya makin cepat dan kuat menekan masuk sebanyak yang dia inginkan bisa masuk.

Aku tak hentinya merasa mual sewaktu penisnya didorong kuat menembus lebih dalam kerongkonganku, sekali-sekali dicabutnya penisnya dari mulutku dan biarkan aku coba bernapas lega dan mulutku banyak mengeluarkan air ludah. Diujung penis abang tiriku, dapat kulihat ada cairan kilat dan sedikit menetes keluar dari mulut penisnya, dan saat dia mendorong penisnya masuk lagi dalam mulutku aku rasakan cairan diujung mulut penisnya itu terasa sedikit asin, tapi aku terus mengulum penisnya lagi.

Rasa suka mengulum penisnya mulai kusadari, rasa suka dan kagum pada tubuh kekar bang Arif juga mulai datang dalam hatiku, aku merasa sedikit tidak terpaksa lagi melakukannya. Lama sekali rasanya aku diminta melakukan itu, hingga sepuluh menit kemudian penisnya dicabut dari mulutku dan bang Arif pindah posisi kembali membuka kedua pahaku lebar-lebar dan dia dalam posisi berbersimpuh diantara selangkangan pahaku. Sambil mengatakan kalo aku gak perlu takut dan dia akan memberi kenikmatan padaku, dia juga bilang kalo dia sangat sayang padaku dan segera diletakkannya penisnya persisi dibibir vaginaku.

Digerak-gerakkannya penisnya seperti mengelus-elus bibir vaginaku, dan aku tetap memperhatikan setiap aksinya dalam keadaan rasa takut, tiba-tiba rasa takut dan cemas muncul dipikiranku, karena aku tau kalo dia bakalan memasukkan penisnya sangat besar dan sedang menegang itu kedalam vaginaku. Aku menyadari rasa cemasku karena aku belum siap melakukan itu, aku masih terlalu belia, aku adalah gadis perawan umur 13 tahun dan vaginaku gak mungkin mampu menerima penis abangku yang memang kusadari sangatlah besar. Mungkin perempuan dewasa pun akan merasakan sakit yang sangat kalo vaginanya dimasuki oleh penis bang Arif yang ukuran super besar itu, sesuai dengan postur tubuhnya yang tinggi besar dan tegap.

“abang sayang sama adek…adek sayang kan sama abang…adek maukan muasin abang, abang janji gak bakalan nyakitin adek, tapi adek juga janji ya jangan ceritakan pada siapapun…ini rahasia kita berdua…”, saat dia mengatakan itu aku gak menjawabapapun selalin rasa takut terus menghantui pikiranku.
“adek takut bang..adek gak bisa…”, suara serak dan airmataku menetes lagi untuk kesekian kalinya,

aku juga masih berharap kalo bang Arif gak usah melakukannya, berharap kasihan padaku dan menghentikannya.

“Mulanya aja nanti sakit, abis itu gak apa-apa kok..asalkan adek nurut aja dan mau belajar menikmatinya…abang yakin adek akan merasa nikmat juga…”, ucapnya sangat lembut tapi gak mampu mengobati rasa takutku.

Aku gak bisa bayangkan gimana rasa sakitnya nanti kalo penisnya yang sangat besar sebesar mirip pisang raja itu gedenya.

“adeek…abang masukin ya…”, dia memohon lembut dengan wajah memohon, aku gak jawab dan segera kurasakan kalo bang Arif mulai menekan penisnya mencoba menerobos vagina perawanku yang saat itu juga belum ditumbuhi bulu.

Penisnya yang gede itu menusuk-nusuk dikit-dikit dan agak pelan, sungguh aku amat takut menanti apa yang akan terjadi, lalu bang Arif kulihat meludahi tangannya dan ludahnya dioleskannya kebagian kepala penisnya. Aku gak tau apa tujuan dia melakukan itu, aku gak ngerti sama sekali, bahkan dia juga mengoleskan ludahnya kevaginaku.

Saat vaginaku selesai diolesi dengan air ludahnya, dia langsung meletakkan penisnya kevaginaku, dan mulai menekannya, menusuknya dikit dikit, aku merasakan penisnya mulai masuk sedikit dan ditekannya lagi, lagi dan lagi, tapi tak juga berhasil menmbus lobang vaginaku. Sepertinya bang Arif sadar kalo vaginaku terlalu kecil untuk dimasuki penisya yang sangat besar. Dan dia menindihku, menciumi leherku, telingaku, dan seluruh wajahku. Terakhir dia menjilati payudaraku yang saat itu belum tumbuh normal layaknya gadis remaja.

Payudaraku masih mulai berbentuk tapi belum sempurna. Jilatan lidahnya dibagian payudaraku membuatku merasa nyaman, membuatku merasa seperti mengalami suatu yang belum kurasakan seumur hidupku, aku merasa suka dengan apa yang sedang dilakukan bang Arif abang tiriku. Aku menggeliat dan kepalaku seperti meronta-ronta menggeliat kekanan dan kekiri menahan suatu rasa yang sangat membuatku nyaman dan menyukainya. Dia terus menjilati bagian pentil payudaraku yang mulai belum tumbuh sempurna berwarna kemerahan.

Aku pegang kepala bang Arif berusaha menjauhkannya dari tubuhku, karena aku gak tahan merasakan geli dan rangsangan yang mulai datang dalam diriku. Tapi dia berusaha terus menjilati bagian sensitif payudaraku yang membuatku semakin terangsang dan sepertinya aku sangat menyukai aksinya. Tiap jilatannya membuat rasa nikmat, membuatku semakin pasrah dan membiarkannya meneruskannya.

“adek suka kan..?”, tanyanya saat aku merasakan nikmat sampai menutup mataku karena gak tahan menikmatinya. “sekarang abang masukin ya…abang sudah gak tahan ingin rasakan vagina adek, abang sangat menyukaimu dek, adek maukan ngentot sama abang”, bisiknya pelan ketelingaku dan aku diam saja.

Lau dia ganti posisi seperti semula melebarkan lagi kedua pahaku dan dia seperti bersimpuh dengan kedua lututnya juga agak dilebarkannya diantara selangkanganku.

“tahan ya sayang…gpp kok”, ucapnya setelah melumuri vaginaku dengan air ludahnya.

Dan penisnya ditekan-tekan manusuk lobang vaginaku, terasa amat sakit karena saat itu penisnya berhasil didorong menembus dikit kedalam vaginaku. Sekali lagi ditekannya kuat dan langsung kuarasakan kalo bagian kepala penisnya seakan sudah masuk semua kedalam vaginaku, aku menjerit,

“aduuuh bang…saliiit…uuuh..”, rintihku karena gak tahan menahan sakit.

Tapi bang Arif gak peduli dengan rintihanku, dia malah menusukkan penisnya lebih kuat lagi menekan masuk kevaginaku, dan aku rasakan vaginaku seperti robek seakan ada yang koyak pada bagian lobang vaginaku. Aku langsung menjerit sangat kuat karena gak tahan, lalu bang Arif menjatuhkan badannya diatas tubuhku dengan tetap membiarkan peninsya ada dalam vaginaku. Diciuminya bibirku dan dilumatnya mulutku hingga suara jeritanku tak terdengar lagi karena mulutnya menutupi mulutku dan disedot-sedotnya mulutku. Sementara badanku menjadi menegang kaku menahan sakit dan perih dibagian vaginaku, atau mugnkin juga aku semakin takut karena rasanya robekan dalam vaginaku mengeluarkan darah dari dalamnya.

“gak apa-apa sayang baru masuk dikit kok, sakitnya cuma bentar…”, ucapnya sambil mendorongkan penisnya dengan gerakan tiba-tiba ditekannya sangat kuat sekali…

hingga kurasakan penisnya masuk lebih dalam lagi ( mungkin sebagian dari penisnya sudah masuk tertelan kedalam vaginaku yang sangat sempit dan kecil).

“aduuh yaaang…enaknyaaaa….sempit banget yaaang…”, ucapnya saat itu, tapi dia gak menekan penisnya lagi dan berhenti menusuk vaginaku,

sementara tubuhku semakin kaku dan kedua tanganku berusaha mendorong badannya yang sangat besar dan berat. Tapi tenagaku gak mampu mendorong badannya sedikitpun.

“ampun baang…sakiiit…aduuuuh…uuuuh…”, rintihku terus menerus saat kurasakan darah perawanku mengalir keluar pada bagian bibir vaginaku…”.
“ditahan ya sayang…ditahan…”, ucapnya sambil menciumi keningku.

Ada lebih 1 menit penisnya diam dalam vaginaku, lalu beberapa detik kemudian aku rasakan penisnya meulai menusuk-nusuk dan badan bang Arif mulai bergerak naik maju mundur menindihku. Gerakannya semakin membuatku merasakan perih yang teramat perih, keparawananku telah direnggut bang Arif ( abang tiriku sendiri ).

Semakin lama gerakan badannya semakin cepat dan tusukan penisnya semakin kuat menerobos masuk lebih dalam seakan merobek-robek lobang vaginaku, rasanya rongga vaginaku kaku dan terasa penuh menjepit penisnya. Dan sungguh aku benar-benar gak sanggup menahan perih. Dan aku sampai gak sadarkan diri saat itu, aku gak tau apa yang terjadi selanjutnya. Aku terbangun dari sadar saat kurasakan ada bibirku. Da aku mendengar suarabang Arif berkata,

“sudah bangun sayang…makasih ya sayang…abang sangat puas, dan abang juga tau kalo kamu tadi menikmatinya”. Saat itu aku lihat dia sudah memakai celananya dengan telanjang dada, dengan posisi duduk disebelahku mendekatkan wajahnya kewajahku.

Sementara tubuhku masih dalam kedaan telanjang. Segera dia menyuruhku memakai baju kembali, tapi pada saat aku akan bergerak bangun dan melangkah, aku langsung menrintih, karena rasa sakit yang sangat perih dibagian selangkanganku. Bang Arif membantuku memakaikan bajuku sampai selesai, dan dia juga menasehati agar aku jangan banyak bergerak dulu, dan membawakanku segelas air putih.

Rasa sedihku berkurang karena melihat perubahan yang terjadi pada abang tiriku, perubahan yang membuatku hampir tidak bisa mempercayai apa yang dilakukannya, baik sekali (ucapku dalam hati ). Saat itu juga dia memintaku agar kejadian ini harus dirahasiakan pada siapapun juga, tidak boleh ada yang tau selain kami berdua (pintanya padaku). Dan aku juga berusaha untuk merahasiakan ini, karena aku gak mau ada orang yang tau kalo aku sudah tidak perawan lagi, aku sangat malu kalo itu akan terjadi, dan disamping itu juga aku gak mau kalo bang Arif sampai menyakitiku seperti yang dia ucapkan padaku barusan. Dia bilang kalo aku bicara atau mengadukan ini pada siapapun, dia gak akan tinggal diam dan akan membunuhku, dan akan membunuh ibuku juga.

Setelah kejadian itu aku menjadi sering melamun dan sering berlama-lama seorang diri didalam kamar. Dalam 3 hari ingatanku selalu terbayang akan apa yang telah dilakukan abang tiriku padaku, aku sudah tidak suci lagi, aku sudah kotor dan sudah melakukan dosa. Oh ibu…betapa malang nasib putrimu, betapa hancur hatimu kalo tau bahwa putrimu yang cantik sudah tidak perawan lagi. Aku juga mearsakan perubahan pada diri bang Arif terhadapku, tatapan mata selalu sinis dan tajam seakan mengingatkanku agar aku tetap merahasiakan perbuatanya yang telah menyetubuhiku, adik tirinya sendiri. Tapi perbuatanya semakin menunjukkan perhatian padaku, bahkan sering membantuku mengerjakan pekerjaan rumah.

Seminggu setelah kejadian itu, pada hari sabtu malam minggu, tepatnya jam 2 pagi, aku tersentak bangun dari tidurku, karena merasa ada seperti menjamah tubuhku . Dan aku sangat terkejut melihat bang Arif ada didalam kamarku sedang duduk disebelahku dengan hanya memakai celana dalam berwarna putih. Dan dia saat itu sedang meraba-raba vaginaku. tangannya juga sudah berada dalam celana dalamku dengan jari-jarinya bermain menyentuh vaginaku. Dan tangannya yang satu lagi membelai kepalaku dan mulutnya menciumi bibirku. Aku gak berani bersuara karena dia memberi isyarat agar aku diam dan turut padanya.

Aku gak berani melawan karena aku sadar akan resiko yang akan terjadi padaku nanti, aku sangat menakutinya. Dia menyuruhku untuk membuka seluruh pakain yang kupakai, dan gak ada yang bisa kulakukan selain menuruti perintahnya. Rasa takutku datang lagi dan semakin takut saat kubayangkan dia memaksaku bersetubuh dengannya seminggu lalu, aku semakin takut membayangkan rasa sakit yang sangat menyiksaku saat penisnya dimasukkan kedalam vaginaku, aku takut membayangkan itu akan terulang lagi malam ini.

Dan memang akan terulang lagi karena dia sudah ada didalam kamarku dan bahkan aku sudah selesai membuka seluruh pakaianku hingga aku bugil, seolah menjadi tontonan asik bagi abang tiriku yang sudah dipenuhi nafsu akan memperkosah ku lagi malam ini. Bang Arif tidur telentang dikasurku dengan hanya memakai celana dalam dan aku disuruh duduk disampingnya. Lalu aku diminta untuk membuka celana dalamnya, aku ragu dan takut, aku merasa hina, (sedangkan dia seolah seorang raja yang harus dituruti keinginannya).

Walau sesungguhnya ada merasa benci dan pilu didasar lubuk hatiku, namun aku juga ada merasa kangen ingin melihat penisnya lagi ( aku bukan munafik, tetapi sesungguhnya aku juga tidak menginginkan ini terjadi ).

“ayo sayang dibuka…adek pasti kangenkan sama kontol abang, adek pasti ingin…ingin menjilati kontol abang yang gede, ayo cepat sayang…”, ucapnya, tapi aku gak mau melihat wajahnya dan
“puihh…”, aku ludahi perutnya (tapi air ludahku masih tertahan dalam mulutku, karena aku memang gak berani meludahinya ).

Gak mau melihat dia marah, aku segera menyentuh benda kebanggaan para lelaki itu. Kucoba buka celana dalamnya yang berwarna putih itu, lalu kuturunkan sebatas pahanya, jantungku deg-deg ser saat membukanya, benci tapi kangen ingin melihatnya lagi. Begitu kuturunkan celana dalamnya, langsung menyembul keluar penisnya sangat besar itu, masih setengah menegang tapi sudah cukup besar. Dan kulihat abang tiriku tersenyum (seolah dia sangat bangga mempertunjukkan kemaluannya padaku ).

“hemm…adek pasti kangen ya…?”, dia seperti mengejekku, sumpah aku benci sekali mendengar perkataannya.
“kenapa sih abang tega pada adek melakukan ini…adek masih anak-anak bang…”, ucapku padanya sambil menggenggam penisnya yang setengah menegang itu.
“karena abang sayang adek, dan abang tau adek juga suka kan..?”, tanyanya dengan santai sekali.
“mulai sekarang kontol abang milik adek…terserah adek mau apakan sesuka adek…abang senang kok…”, ya Allah sadarkah dia kalo aku belumlah pantas untuk melakukan ini.

Kubelai penisnya, dan kujilat mulut penisnya, lalu kucoba masukkan kepala penisnya kedalam mulutku. Saat aku kulum penisnya, kepalaku dibelai-belainya, dan mulutnya banyak mengeluarkan kata-kata yang membuatku sangat terhina ( tapi kata-kata yang diucapkannya juga membuatku sedikit terangsang ).

” ough…enaknya sayang…lagi sayang, yang kuat isapnya, yang enak sayang…duuuh enaknya “, mulutnya meracau sambil membelai-belai kepalaku.
“aduuh…enaknya…dimasukan lebih dalam lagi sayang…yang dalam sayang…ough…”.

Aku terus mengemut bagian kepala penisnya dan tangan kananku menggenggam sebagian batang penisnya yang sangat lebar, aku mearasa suka juga (walau ada perasaan benci ). Kuhisap lalu kukeluarkan dari mulutku, kuhisap lalu kekukeluarkan lagi dari mulutku dan kulakukan begitu berulang-ulang sambil mendengar mulutnya terus mengucapkan kata-kata tanda menikmati.

Saat kukulum dan mencoba menyukai penisnya, bisa aku rasakan kalo penisnya semakin memanjang dan semakin mengeras. Kulepaskan dari mulutku dan kupandang penis itu yang kini sudah sempurna menegang sangat besar berdiri mengarah kepusarnya. Abang tiriku memiliki penis yang sangat besar, diusiaku yang 13 tahun aku sudah bisa terangsang melihat penis abangku, yang menurutku sangatlah bagus, sempurna dengan badannya yang juga tinggi besar dan tegap.

Aku menyukai bulu-bulu yang tumbuh diperut abang tiriku, aku menyukai bulu-bulu yag tumbuh dipaha abang tiriku, dan aku juga suka melihat bulu-bulu disekitar pangkal penisnya yang aku lihat tumbuh sangat lebat. Saat mengulum penisnya aku juga sempat berpikir, apakah pikiranku wajar?, apakah semua perempuan bila melihat ini akan merasa suka?, apakah aku salah kalo ada perasaan suka dihatiku melihat penisnya (karena umurku hanya baru menjalani 13 tahun ).

Lalu dia (abang tiriku ) mengajarkanku untuk membuatnya senang. Dia memintaku untuk menjilati buah pelirnya yang bagiku sangat asing, dia juga memintaku menjilati perutnya yang berbulu. Setelah lebih dari 5 menit aku diminta mengulum penisnya, aku disuruhnya menindih tubuh tegapnya, dan langsung mulutku dilumatnya sangat kuat sampai aku susah bernapas. Dipelukknya tubuhku dengan kedua tangannya sangat kuat sekali sambil menyedot mulutku (wajah kami saat itu sampai menempel dibuatnya ).

Dan aku merasakan kalo penisnya kini mulai menyentuh selangkangan pahaku dari bawah. Ya Allah…mengapa aku menyukai ciuman abang tiriku dimulutku saat ini, mengapa aku menyukai tangannya menjamah -jamah badanku, menjamah pantantku, menjamah pahaku dan menjamah vaginaku, sungguh tangannya gak berhenti menjamah tubuhku saat aku menindihnya dan mulutnya juga terus melumat mulutku. Aku merasa suka dan nyaman dipelukan abangku yang sangat kubenci itu. Lalu kurasakan jari-jarinya bermain disekitar bibir vaginaku membuatku semakin terangsang, aku merasa suka dengan sentuhan jarinya disekitar vaginaku saat aku berada diatas tubuh tegapnya.

Aku sungguh merasakan pengalaman yang belum pernah kubayangkan seumur hidupku, berada dalam pelukan laki-laki dewasa yang dalam keadaan sama-sama telanjang malam itu. Aku tidak menyukai bang Arif tapi aku benar-benar terangsang dibuatnya. Namun walau aku sudah terangsang saat itu, dalam pikiranku masih juga ada perasaan takut, aku takut membayangkan kalo vaginku yang kecil dan sempit itu dimasuki penis yang sangat besar itu lagi, aku terangsang tapi aku tetap aja gak suka kalo penisnya akan dimasukkan kevaginaku…aku belum siap untuk itu. Aku sangat takut jika membayangkan itu.

Bang Arif mengolesi vaginaku dengan air ludahnya…lalu mencoba menusuk vaginaku dari bawah (karena saat itu dia tetap menuntunku agar aku tetap menindihnya dan tetap saling berciuman ), Didorongnya penis dari bawah mencoba masuk kevaginaku, digerak-gerakkan nya tubuhnya untuk menekan vaginaku dengan penisnya.

“bang adek takut…jangan dimasukin bang…”, pintaku dengan suara pelan memohon padanya karena aku memang takut dimasuki.
“ga papa sayang…nanti enak kok, abang masukinya pelan-pelan sayang…mau ya…?”, bisiknya pelan dan lembut ketelingaku sambil menjilati telingaku (dan membuatku merinding karena telingaku dijilatinya dan aku suka ).
“takut bang…”, aku mulai merintih saat kurasakan kalo kepala penisnya mulai menusuk dikit mencoba masuk kevaginaku.

Dan segera saja badanku mulai kaku dan menegang akibat takut kalo penisnya mulai masuk sedikit. Bang Arif terus mencoba berulang-ulang menembus vaginaku dengan penisnya dar bawah, tapi tetap saja hanya bisa masuk sedikit dan selalu gagal untuk menembus lebih dalam. Mungkin karena vaginaku memang taidak sebanding dengan ukuran penisnya yang sangat besar itu. Berulang-ulang gagal, lalu bang dia membalikkan badanku hingga aku menjadi dibawah dan dia yang berada ditubuhku, dijilatinya seluruh bagian atas tubuhku yang putuih mulus, dia jilat-jilat bagian payudaraku dan bagian penitilnya, lalu bagian perutku dan akhirnya turun kebagian vaginaku, dan setiap jilatannya membuat badanku menggelinjang menggeliat-geliat karena kegelian (namun tetap saja ada perasaan takut dalam hatiku ).

Puas menjilati vagina kecilku yang belum ditumbuhi bulu, dia mencoba melumuri penisnya dengan air ludahnya sendiri, dan itu membuatku semakin takut.

“jangan bang…adek gak mau…adek gak bisa jangan…”, aku merengek pelan memohon padanya,
“sudah gak usah bersuara, nanti kedengeran ayah dan ibumu”,
“bang adek takuut…”, aku memohon padanya agar jangan sampai dimasukkan.

Tapi bang Arif gak peduli dan memerintahku jangan sampai bersuara dan harus menuruti kemauannya. Dalam posisi seperti bersimpuh diantara selangkangan pahaku yang sudah dibukanya lebar-lebar, dia mencoba memasukkan sedikit demi sedikit penisnya yang sangat besar itu kedalam vaginaku yang masih kecil berwarna kemerahan. Sekali tekanan yang sangat kuat membuatku terkejut dan hampir menjerit karena menahan sakit, tapi aku tidak berani bersuara karena dia melarangku bersuara. Aku bisa rasakan kalo semua bagian kepala penisnya sudah masuk kevaginaku, dan rasanya seperti koyak lagi bibir vaginaku, dan dia terus mencoba menekan menusuk sekit demi sedikit hingga hampair setengah dari batang kemaluannya sudah masuk menerobos vagina kecilku.

Aku menangis menahan perih (tapi aku gak berani bersuara ), lalu dia menindihku dengan tetap menancapkan penisnya yang sudah masuk hampir setengah dari panjang penisnya. Lalu kedua tangannya memegang kedua pipiku dan mulutku diciuminya seperti menyedot mulutku, dan pada saat itu dia juga mulai menggerak-gerakkan pinggangnya nai turun sehingga penisnya terus bergerak naik turun menusuk-nusuk ruang vaginaku yang sangat sempit.

“uuuh…ampuuuun, sakit bang…aduuuh…uuuuuh….”, aku merintih tak henti menahan perih yang sangat perih,

tapi dia tetap gak peduli dengan terus menekan-nekan penisnya kevaginaku dan aku dilarang jangan sampai bersuara keras, karena takut bakalan kedengaran ayah dan ibu.

“ditahan ya sayang…abang gak masukkan kontol abang semua kok, abang cuma masukkan setengah…ouugh…”, ucapan abangku gak ada artinya, tetap saja aku menahan perih yang sangat sakit.

Dan dia tetap menusuk menekan-nekan penisnya yang kuraskan semakin lama gerakannya semakin kuat-kuat, dan aku semakin tersiksa menahan sakit.

” aaagh…ampuuun bang…ampuuuun, sakit kali bang…uuuuh….uuuuh….”, dia gak peduli dengan sakit yang kurasakan, dan dia melumat mulutku hingga aku gak bisa lagi mengeluarkan suara.
“jangan bersuara…nanti kedengaran ayah…nikmati saja sayang…dinikmati enaknya, ouugh…”.
“sakiit bang…udalah baaaang…aduuuuh….”, rintihku sangat pelan ketelinganya dan linangan air mataku terus mengalir karena sakit yang kuderita
“aduuh enaknya deek…du deeek enaknyaaaa, enak kali ngentoti vaginamu deeek…duuuh enaknya..duuuh sempitnyaaa…ouugh…”. abangku gak henti ucapkan kata-kata kotor sambil tarus menekan penisnya yang semakin lama gerakannya semakin kuat dan cepat.

Sementara aku terus minta ampun memohon padanya agar dihentikan karena sangat tersiksa menahn sakit.

Lama sekali aku harus menahan sakit, tapi malam itu aku tidak sampai pingsan . Dan kulihat abang tiriku sangat menikmatinya. Penisnya memang setengah dimasukkan kevaginaku tapi aku tetap saja gak tahan karena sakit, aku merasa vaginaku sperti dirobek-robek saat dia terus mengerak-gerakkan badabnya naik turun menekan-nekan lobang vaginaku. Tubuhnya yang kekar penuh dengan keringat saat iu dan terus menikmati vaginaku gak henti-hentinya menekan. Hingga lebih dari 20 menit dia tidak lagi menekan dan berhenti menggerakkan badannya, tapi diwaktu terakhir dia menggerakkan badannya, aku rasakan badannya bergerak sangat cepat sekali menekan-nekan dan desahan napasnya sangat menggebu.

Pada saat itu aku hampir pingsan karena sakit yang kurasa akibat gerakannya sangat kuat-kuat dan sangat cepat, dan terakhir diremasnya sangat kuat kepalaku dengan kedua tangannya, dan kurasakan badannya kaku sementara penisnya tetap dibenamkan didalam vaginaku. Yang kurasakan saat itu, sepertinya dia mengeluarkan cairan dari penisnya yang terasa hangat dalam vaginaku, dan mungkin itulah yang dinamakan sperma. Dia tumpahkan seluruh cairan spermanya didalm vaginaku, aku merasakannya, dan terasa lain bagiku, karena itu pengalaman pertama bagiku disetubuhi dengan siraman sperma dalam vaginaku.

“enaknya sayang, abang puas banget, kamu hebat sayang…bisa buat abang puas…abang sayang banget sama kamu…muuuach”, ucapnya terakhir kali saat spermanya berhenti mengeluarkan cairan dalam vaginaku.

Pada saat itu posisinya masih tetap menindihku dan penisnya masih tetap berada dalam vaginaku. Dia terus menciumi wajahku, dan aku lega karena penderitaanku selesai. Badanku juga penuh dengan keringat saat itu.

Lalu dia mencabut penisnya dari vaginaku dan pada saat itu aku merasa kesakitan saat dia mencabut tiba-tiba penisnya dari vaginaku. Lalu dia merebah tidur telentang disebelahku, aku lihat dia memejamkan matanya, dan aku segera membenahi diriku dan aku bergerak hendak kekamar mandi dengan memakai handuk, tapi aku tidak bisa bergerak dengan cepat karena perih yang kurasakan disekitar selangkanganku. Selesai membersihkan diri dari kamar mandi aku masuk kamar dan kulihat bang Arif masi tidur telentang diatas kasurku dengan keadaan bugil.

Aku masih dapat melihat sisa-sisa sperma yang ada diujung mulut penisnya yang mulai mengering. Ada rasa kagum dihatiku saat melihat abang tiriku sendiri tidur dalam keadaan telanjang, kagum dengan tubuhnya, dengan wajahnya yang tampan dan juga ada rasa suka melihat penisnya. Setelah kupakai baju tidurku yang berwarna pink, aku tidak langsung membangunkan abangku supaya segera pindah kekamarnya (takut kalo nati ketahuan ayah atau ibuku, atau juga bang Dani yang satu kamar dengan bang Arif ).

Aku masih tetap duduk disampingnya menatap kearah tubuh abangku yang sangat kubenci tu (karena telah merenggut paksa perawanku ). Kupandangi wajahnya, tampan tapi hatimu jahat (ucapku dalam hati ), kupandang dadanya yang bidang, lalu kupandangi perutnya yang berbulu, ada rasa kagum aku melihatnya. Lalu kupandangi penisnya yang sudah melemas tapi tetap saja ukurannya sangat besar. Lama aku menatap penisnya yang sangat besar itu, aku suka melihatnya walau kusadar penisnya itu telah mengoyak-ngoyak perawanku.

“ya Allah terlalu cepat diriku mengetahui semua ini..”, bisikku dalam hati.

Dan ntah kenapa ada rasa ingin menyentuhnya, ada rasa tetarik untuk memgangnya lagi. Kulihat kearah wajah bang Arif yang sudah benar-benar tidur. Lalu kuberanikan untuk memegang penisnya sekali lagi, dan setelah itu kubangunkan dia supaya segera pindah kekamarnya. Bang Arif terbangun dan segera memakai celana dalamnya dan pergi keluar kamarku. Tapi sebelum meninggalkanku dia juga sempat mengancamku agar aku tidak buka mukut pada siapapun dan ini hanya rahasia kami berdua. Dan juga bilang padaku bahwa dia akan tetap melakukan ini padaku dan aku harus nurut padanya.

Setelah kejadian ke-2 ini, seminggu sekali aku tetap diminta abang tiriku untuk memuaskan nafsunya. Dan selama sebulan aku harus melayani nafsunya seminggu sekali. Namun penderitaanku bertambah, karena setelah sebulan dia malah minta dilayani seminggu 2 kali, dan dia selalu masuk kamarku dimalam hari kala semua yang ada dirumah sudah tertidur. Tidak cukup seminggu 2 kali, ternyata dia hanya lakukan itu selama sebulan, karena bulan ke 3 dia malah jadi ketagihan, memintaku melayaninya seminggu 3 kali. Tidak ada yang bisa menolongku dan aku takut berbicara pada siapapun karena ia selalu mengancam. Abang tiriku benar-benar telah menjadikanku untuk menjadi pemuas nafsunya, dia telah menjadikan adik tirinya untuk memuaskan nafsunya, tanpa penduli betapa menderitanya aku.

Dan ternyata Tuhan menolongku dan mendengarkan doaku. Setelah 3 bulan dijadikan pemuas nafsu abang tiriku, keluargaku dapat kabar baik kalo bang Arif ada panggilan kerja ke Pekan Baru sebagai tenaga mekanik disebuah perusahaan. Karena sudah lama menganggur akhirnya ayah merundingkannya dengan bang Arif, dan ternyata bang Arif tidak keberatan dan menerima tawaran kerja untuk ke Pekan Baru. Betapa senangnya hatiku (karena penderitaanku akan berakhir dan aku terbebas dari bang Arif ). Artinya aku tidak lagi dijadikan pemuas nafsunya, dan tidak ada lagi yang menyakitiku.

Tiga hari setelah mendengar kabar itu, akhirnya keluargaku akan segera memberangkatkan bang Arif. dan semua perbekalan yang diperlukannya sudah dipersiapkan. Dan sore itu jam 5, detik-detik akan memberangkatkan bang Arif, karena dia akan berangkat malam dari Medan ke Pekan Baru, pada saat itu ayah dan ibu berada didepan rumah dan bang dani sedang mandi. Aku yang pada saat itu berada dalam kamarku dibuat terkejut oleh kehadiran bang Arif dikamarku, saat itu dia langsung menciumiku dengan penuh nafsu.

Dan aku tau kalo aku harus menurutinya karena memang dia tidak bisa ditolak keinginannya. Puas menciumiku, lalu dia membuka seleting celananya dan menyuruhku duduk diatas tempat tidurku. Dia memintaku untuk memuaskan nafsunya yang terakhir kali dengan melakukan bahwa aku harus mengulum penisnya. Pada saat beberapa menit aku mengulum penisnya ( posisi abangku saat itu berdiri sementara aku duduk ditempat tidur ), tiba-tiba kami dikejutkan suara ayah dari ruang tamu dengan memanggil nama bang Arif, ayah mengatakan kalo taxi yang menjemputnya keterminal sudah datang.

Bang Arif lupa menutup pintu kamarku, walau saat itu tidak terbuka lebar. Kami langsung bergegas diri agar tidak sampai ketahuan ayah, dan ternyata waktu bang Arif membenahi seleting celananya, ayah sudah membuka pintu kamarku dan langsung menatap kami berdua, yang saat itu posisiku sudah berdiri, dan bang Arif juga hampir selesai menutup seleting celananya.

“Arif…cepat bersiap-siap, taxi sudah datang…”, ucap ayah yang sedang berdiri dipintu kamarku, tapi dia berbicara dengan tatapan seperti menaruh curiga.

Segera bang Arif keluar kamarku sambil bilang

“iya ayah, aku sudah siap kok, aku tadi cari charger Hp, rupanya ada sama Rani”, ucapnya bohong pada ayah.

Lalu ayah mengikuti bang Arif keluar menemuai supir taxi. Tapi sebelum ayah melangkah mengikuti bang arif, dia menatapku agak aneh, tapi aku senyum menanggapi tatapan ayah.

Incoming search terms:

  • cerita dewasa ayah tiri
  • cerita seks ayah tiri
  • cerita mesum ayah sama anak tiri
  • cerita ngentot ayah tiri
  • cerita seks dengan ayah tiri
  • cerita dewasa ayah dan anak tiri
  • cerita diperkosa ayah tiri
  • cerita SEK ayah tiri
  • Cerita mesum ayah tiri
  • cerita ayah tiri

Tags: #cerita dewasa #cerita ngentot #cerita sedarah #cerita seks perawan

vimax
Agen Betting Terpercaya Obat Pembesar Penis
Obat Pembesar Penis Obat Pembesar Penis

Tinggalkan pesan "Cerita Dewasa: Aku Jadi Pelampiasaan Nafsu Ayah Tiriku"

Penulis: 
author