Cerita Dewasa Gadis Lesbian

76468 views
Agen Betting Terpercaya Obat Pembesar Penis
Obat Pembesar Penis Obat Pembesar Penis

Cerita Dewasa Gadis Lesbian – Padahal ragaku sudah terlampau lelah beraktivitas seharian ini, namun heran kenapa malam ini mataku membangkang untuk diistirahatkan. Dan hal tersebut berimbas pada otakku. Pikiranku menjalar tak tentu arah.

Cerita Dewasa Gadis Lesbian Cerita Dewasa Gadis Lesbian Cerita Dewasa Gadis Lesbian Foto Tante Jepang Cantik Narsis Bugil 1
Cerita Dewasa Gadis Lesbian – Kubalikkan badanku yang sedari tadi menghadap dinding. Mungkin saja dapat mempermudah perjalananku ke alam mimpi. Tapi ternyata hal itu tak berpengaruh. “Apa karena aku sedang kesal sampai-sampai aku jadi insomnia mendadak begini?” Aku memang sedang kesal.

Kesal dengan bos yang cerewet. Kesal dengan teman sekerjaku yang ikut-ikutan berlagak kayak bos yang juga sama cerewetnya. Dan sampai rumah, kekesalanku kian menumpuk. Nggak tau orang udah capek, perempuan yang sedang berbagi ranjang denganku ini malah ngomel-ngomel nggak penting.

“Ngoookkk … Ngoooookkkk …..”

Suara itu bukan suara kerbau milik tetangga sebelah, apalagi suara nyamuk-nyamuk nakal. Itu adalah suara perempuan yang lagi ngorok berat di sebelahku ini. “Hah, makin membuatku tak bisa tidur saja!” desisku seraya menutup mukaku dengan bantal.

Sejam sudah benakku melayang-layang tapi tak juga membuat mataku mengantuk. “Huhh!!!” Aku mengubah posisiku tidurku lagi. Ksli ini menengadah menatap langit –langit kamar yang terbuat dari papan kayu jati. Masih terdengar suara ngorok perempuan itu. Akhirnya kuarahkan mataku pada sosok yang tengah pulas dengan helaan nafas yang terdengar jelas. Nyenyak sekali tidurnya. Nampak gurat-gurat kelelahan dalam wajah tirusnya. Mungkin hari ini ia terlalu letih berkutat dengan pekerjaan rumah tangga.

Ibu …

Ah, entah aku tak ingat kapan terakhir kali menatap raut muka ibu saat tidur. Yang pasti hampir lima tahunan. Dulu aku senang sekali memandang wajah ibuku ketika beliau terpejam. Kini makin banyak saja kerutan-kerutan di paras yang sejak belia tak pernah ditumbuhi jerawat itu. Kedua tulang pipi yang dahulu terlihat menonjol disertai lemak, kini hanya berlapis kulit ari tipis.

Ibu … usiamu telah beranjak senja. Entah kenapa hatiku kemudian merasa trenyuh. Ada perasaan bersalah tiba-tiba menghinggapi. Perasaan bersalah karena belum mampu memberi kebahagiaan yang semestinya pada perempuan yang telah mengandung dan melahirkanku ini.

Sejak memutuskan kembali ke kampung halamanku setelah kurang lebih lima tahun lepas dari pengawasannya, aku merasa terkekang. Terlalu banyak aturan ini-itu yang diwejangkannya padaku, tak seperti saat aku hidup sendiri dulu aku bebas melakukan apa saja.

Tapi, beruntung beliau tak banyak berkomentar soal penampilanku yang tidak ada feminin-femininnya sama sekali ini. Meski semua sepupuku mengenakan kerudung. Beruntung juga ia tidak menyuruh-nyuruhku untuk cepat-cepat kawin seperti yang dilakukan adik ayahku.

“Kalau ke Jakarta dapat suami, baru boleh kamu kembali kesana, tapi kalau tidak dapat ya mending disini saja!” Begitu jawab tanteku yang mempunyai cita-cita luhur untuk segera menikahkan keponakan-keponakannya dengan getol banget mencarikan jodoh, termasuk laki-laki untukku.

“Kalau dapatnya perempuan, gimana?” Kalimat itu sebenarnya ingin meluncur dari bibirku, namun kemudian tertahan dan kuganti dengan sunggingan senyuman.

“Lho, rambutmu kok dipotong pendek sih?” jerit tanteku itu agak histeris melihat gaya rambut baruku plus kuncir ala ekor tikus. “Jangan pendek-pendek, jadi makin kayak lesbian aja! Vagina kok ketemu vagina!!” ujarnya tanpa tedeng aling-aling.

Deg. Jantungku tersentak. Aku tahu sebenarnya sudah sejak lama ia menaruh curiga dan meragukan ketertarikanku pada laki-laki, tapi ia tak pernah secara lugas mengutarakannya. Hanya sindiran-sindiran halus seperti inilah yang ia gunakan untuk memancing reaksiku dan selalu kujawab dengan senyuman tak terdefinisikan.

Meski kadang nuraniku teramat sangat ingin berteriak, namun sisi hatiku yang lain selalu mengingatkanku bahwa saat ini bukan waktu yang tepat. Pernah beberapa waktu lalu aku kecolongan. Salah seorang sepupuku menemukan SMS tentang undangan kongkow lesbian di ponselku. Ia memang tak bertanya detil, namun dari tatapan matanya aku yakin betul ia tengah berprasangka.

Perempuan yang wajahnya berjarak tak sampai tiga puluh senti di depan wajahku ini perlahan bergerak-gerak. Namun sebentar, selebihnya ia kembali terlelap.

Yah … kurasa sekarang bukan saat yang tepat. Kucermati tiap lekukan di wajah sayu itu. Untuk saat ini biarkanlah ibu mengira orang yang rajin meneleponku setiap hari dan mengirim salam untuknya itu adalah seorang laki-laki. Ibu tak pernah tahu apa itu lesbian. Di dalam kamus ibu hubungan perempuan dengan perempuan itu hanya berteman. Untuk saat ini biarkanlah tanteku punya kesibukan menerka-nerka orientasi seksualku. Dan untuk saat ini biarkanlah pula aku menikmati persembunyianku sebagai seorang yang menyukai sesama jenisku.

Pilihan hidup yang telah kupilih memang bagaikan sebuah bom waktu. Namun sedini mungkin aku sudah menyiapkan diriku untuk menghadapi semuanya karena cepat atau lambat bom waktu ini akan meledak.

Incoming search terms:

  • cerita sek perawanku diambil sesama lesby
  • cerita lesbian kakak dan adik kandungnya
  • Memek orang sangat gemuk
  • cerita gadis lesbi
  • cerita lesbi jepang
  • Cerita lesbian perempuan dan perempuan
  • lesbi cerita
  • cerita lesbians
  • cerita jepang lesbian
  • cerita lesbian tante ku lagi ngajarin lia gadis sma lesbian

Tags: #cerita baru #cerita daun muda #cerita dewasa #cerita hot #cerita mesum #cerita ml #cerita ngentot #cerita ngewe #cerita porno #cerita sedarah #cerita sedarah cerita lesbian #cerita seks perawan

vimax
Agen Betting Terpercaya Obat Pembesar Penis
Obat Pembesar Penis Obat Pembesar Penis