Cerita Dewasa – Gara Gara Baca Buku Jadi Horny

21363 views
Agen Betting Terpercaya Obat Pembesar Penis
Obat Pembesar Penis Obat Pembesar Penis
Cerita Dewasa – Gara Gara Baca Buku Jadi Horny – rumah kontrakan yang ku tempati terletak di daerah dekat pasar, walaupun jarak dari kontrakanku ke pasar memang agak jauh kalau berjalan kaki tetapi aku tidak risau. Karena aku pergi ke pasar hanya sesekali sewaktu membeli kebutuhan dapur. Setiap kali aku ke pasar, aku akan berjalan kaki saja dan aku jarang membeli banyak barang.
Cerita Dewasa - Gara Gara Baca Buku Jadi Horny Cerita Dewasa - Gara Gara Baca Buku Jadi Horny Cerita Dewasa - Gara Gara Baca Buku Jadi Horny cewek sma mobil

Cerita Dewasa – Gara Gara Baca Buku Jadi Horny – Di pasar itu, aku sering mengunjungi sebuah kios sedang yang menjual berbagai jenis keperluan dapur. Aku bukan saja dapat membeli semua barang-barang yang aku perlukan, malah aku juga berpeluang untuk berkenalan dengan seorang wanita yang aku taksir berumur lebih kurang 37 tahun. Namanya Anisah.

Dia adalah isteri tuan pemilik kios itu. Aku memanggilnya Kak Ani. Dia memang baik dengan ku. Beberapa kali aku mendapat potongan harga dan barang gratis. Ketika dia mengetahui bahwasanya aku bekerja sebagai seorang guru, dia bertambah baik dengan ku. Kebetulan juga anak bungsunya bersekolah di sekolah tempat aku mengajar.

Kak Ani memang ramah, sesuai dengan kerjanya sebagai pemilik kios kebutuhan sehari-hari. Bertubuh agak ramping dan berpostur sekitar 160 cm tingginya. Dia memiliki mata yang jernih dan berkulit cerah. Rambut hitamnya ikal dan panjang melewati bahu. Kak Ani gemar berpakaian ketat terutama di bagian atas tubuhnya.
Kadang-kadang aku merasa gemas apabila terlihat alur di celah dadanya. Beberapa kali Kak Ani “menangkap” aku yang sedang melihat ke dadanya tetapi dia tidak pernah memarahi ku. Malah dia tersenyum. Aku yang salah tingkah jadinya.

Di kios itu juga ada seorang pekerja wanita yang bernama Ina. Dia seorang ibu single parent dan telah lama bekerja di kios itu. Aku tidak pasti berapa umurnya. Mungkin dalam sekitaran 25 tahun ke atas. Aku tidak pernah menanyakan perkara itu pada Ina. Sejak kali pertama aku berbelanja di kios itu, aku mulai tertarik padanya.

Seidaknya, Ina memiliki potongan badan yang cukup menggiurkan dan wajah yang manis. Tingginya hanya sebatas hidung ku. Tubuhnya berisi tetapi tidak gemuk. Bokongnya lebar dan kelihatan padat sekali. Dadanya pun montok sekali. Aku sering memerhatikan Ina setiap kali aku datang ke kedai itu.

Setelah sebulan aku yang bernama Lukman dengan usia 26 bertugas di sekolah itu, aku sudah dapat menyesuaikan diri. Aku sudah dapat menjalani latihan tanpa merasa kikuk hasil bimbingan dari guru mentorku dan guru-guru lain. Aku juga sudah dapat menyesuaikan diri tinggal di dekat pasar itu. Aku sering pergi berjoging atau memancing ikan di sebuah kolam pemancingan yang terletak tidak jauh dari rumah ku.

Kisah pertualanganku bermula pada bulan kedua aku berada di tempat itu. Setelah mendapat kesan yang ramah pada bulan pertama, aku pun berkunjung ke kios Kak Ani untuk membeli keperluan dapur ku yang kebanyakannya sudah habis. Ketika itu aku tidak mengajar karena hari itu libur nasional.

Seperti biasa, Ina membantu aku mencari dan memilih barang-barang yang aku perlukan. Sempat juga aku melirik ke arah dada Ina ketika dia tunduk mengambil barang.
“Besar banget!” Aku sempat mengusiknya.
“Apanya yang besar?” tanyanya agak keheranan.
“Itu, dadanya mbak” Aku memonyongkan bibirku, menunjuk ke arah dadanya.
“Ganjen!” Ina coba mencubit perutku tetapi aku mengelak.
“Kenapa? Belum pernah ngeliat yang besar?”
“Belum.” Aku berbohong.
“Bohong! Orang macam kamu mana mungkin tak pernah ngeliat!”
“Betul, saya gak pernah lihat kok”
“Yang tadi tuh apa?”
“Yang tadi gak keitung lah. Baru ngintip sebagian aja!”
“Terus, mau lihat semuanya Toh?”
“Kalau dikasih lihati, saya mau kok. Hehehe..”
“Ganjen juga kamu ya?”

Setelah selesai memilih barang-barang, aku membawanya ke counter bayar. Agak terkejut juga aku saat melihat jumlah barang-barang ku yang agak banyak. Aku sempat berniat untuk mengembalikan barang-barang yang aku rasakan bisa dibeli lain kali tetapi aku segan karena semuanya sudah berada di atas counter. Mau tak mau, aku terpaksa membayar untuk kesemuanya.

Mungkin setelah melihat aku bersusah payah mengangkat barang-barang itu, Kak Ani segera menegurku.

“Pak guru, gimana mau bawa barang-barang tu? Kan banyak banget tuh?”
“Pikul sendiri saja lah, kak. Mau bagaimana lagi?”
“Pak guru, tunggu bentar, ok? Nanti kakak tolong antar pak guru pulang”
“Eh, tak usah lah, kak. Menyusahkan saja”
“Tak apa… Kakak sekalian mau jemput anak kakak dari sekolahan. Dia kan ikut latihan olahraga? Kkak hantar dulu pak guru. Habis itu pergi jemput dia.”
“Kalau gitu, ok lah.”

Aku menunggu lebih kurang 15 minit sebelum Kak Ani mengajak aku ke mobil Pajeronya. Aku meletakkan barang-barang ku di tempat bagasi dan kemudian duduk di sebelah Kak Ani. Ada perasaan bangga juga karena dapat naik mobil macam itu. Mobil Kak Ani pun meluncur menuju ke jalan utama.

“Pak guru tinggal dimana?” tanya Kak Ani.
“Rumah kontrakan Kahuripan yang di atas bukit tu. Kakak lewat jalan belakang pasar aja.”
“Bagus gak tempatnya, pak guru? Setahu kakak, tempat tu penuh dengan macam-macam jenis orang. Perempuan kelab malam banyak yang tinggal di tempat itu.”
“Mereka tinggal di sebelah belakang. Rumah saya yang dekat dengan jalan raya. Saya ini gak seberapa gajinya, kak. Mana lah mampu buat sewa tempat yang mewah dikit. Tempat itu aja yang saya mampu.”
“Tak apa lah, pak guru. Tak lama lagi kan bapak diangkat jadi pengajar resmi iya toh?”
“Iya. Cuma tinggal 2 bulan. Tapi sekolahannya bagus kan kak?
“Bagus”
“Apalagi disini bisa cuci mata tiap hari.”
“Ngelihatin cewek pasti yah!”
“Dikasih lihat ya dilihat dong kak. Hehehe”

Perbincangan kami bergeser hingga ke perkara yang agak peribadi. Pada mulanya aku merasa agak janggal juga tetapi melihat Kak Ani yang cuek, aku kemudian tidak lagi merasa begitu.

“Pak guru pernah gak pergi dengan perempuan-perempuan kelab malam itu?”
“Maksudnya kak?
“Ya gitu, ikut mereka ke kelab malam. Lalu…”
“Lalu… apa?”
“Tidur dengan salah seorang dari mereka?”
“Oh… itu. Gak pernah kok, kak. Mana ada saya ada duit buat bayar dia.

Bermula dari situ Kak Ani banyak menanyai aku. Seperti sebelumnya, kebanyakan pertanyaan Kak Ani bersifat peribadi tetapi aku tidak sungkan menjawabnya. Biarlah. Terlebih aku menganggap semuanya sekadar hal sepele biasa.

“Anda punya pacar tidak, pak guru?” tanyanya lagi.
“Dulu ada, masa awal kuliah. Sekarang udah gak ada.”
“Emang kenapa putusnya?”
“Gak cocok kak, jadi udahan”
“Pak guru pernah kelonin dia tidak?
“Dengan dia sih belum tapi sebelum dengan dia, memang saya pernah tidur dengan perempuan.”
“Betulkah itu, pak guru?”
“Betul. Waktu tu memang mikirnya perempuan melulu. Kami sama-sama suka, jadi puas melakukannya.”
“Lalu sekarang bagaimana?”
“Entahlah, kak. Saya belum kepikiran lagi, tapi kalau ada yang mau ke saya, ya saya embat”

Karena Kak Ani yang lebih banyak menanyaiku, aku mulai merasa tak enak. Kemudian aku memutuskan untuk bertanya apa saja yang terlintas di pikiran ku kepada dia.

“Kakak ini, banyak nanya banget. Kakak sendiri gimana?”
“Apanya yang gimana?”
“Begini lohkak, Saya belum pernah ngelihat suami kakak.”
“Suami kakak?” Kak Ani segera memotong kata-kata ku.
“Suami kakak jarang ada disini. Kios itu pun kakak seorang aja yang urusi”
“Dia kemana, kak?”
“Sejak dia kawin lagi, dia jarang datengin kakak. Lagian, dia udah buka kios baru di kota isteri mudanya”
“Begitu rupanya. Kakak gak cemburu, suami kakak asyik dengan isteri mudanya?”
“Mulanya cemburu juga tapi sekarang udah nggak. Kakak pun sebenarnya udah gak ngurusin dia mau apa kek.”
“Kenapa kok gitu?”
“Dia kan udah punya bini muda. Kakak ni udah gak diperhatiin lagi. Maklumlah udah tua. Udah gak nikmat lagi mungkin.”
“Yang tu saya gak bisa komen apa-apa. Itu urusan pribadi kakak dan suami. Tapi pada pandangan saya, kakak ni masih muda juga, masih menawan lagi. Saya heran juga kenapa suami kakak perlakukan kakak begitu.”
“Entahlah, pak guru. Segala cara udah kakak usahakan tapi gak ada hasil. Kalau ada pun cuma sebentar. Habis itu dia balik lagi dengan sikapnya semula. Kakak udah gak sanggup lagi.”

“Boleh saya tanya satu masalah pribadi, kak?
“Soal apaan sih?”
“Kakak udah lama gak bareng dengan suami?
“Tidur dengan dia?”

Aku mengangguk. Kak Ani terdiam sejenak sambil tangannya memegangi stir mobilnya. Aku menyimak seksama wajahnya yang jelita seperti tidak dimakan usia itu. Memang tidak sepadan dengan usianya.

“Kalau soal tidur di rumah kakak sih, memang setiap kali dia pulang ke rumah kakak kadang-kadang dia tidur di sofa ruang tamu. Tapi kalau menyentuh saya dan membuat hubungan suami-isteri memang udah lama enggak. Kakak udah tak ingat kapan kali terakhir dia sentuh kakak.”
Aku terus memperhatikan wajah Kak Ani. Ada raut kecewa di wajahnya. Dahinya sesekali berkerut. Timbul rasa bersalahku kerana menanyai Kak Ani soal itu.

“Sorry, kak, saya tanyain soal itu tadi.”
“Eh… gak apa kok. Kakak gak masalah. Harusnya kakak berterima kasih pada pak guru. “Emangnya kenapa?” Aku kebingungan.
“Udah lama sekali kakak pendam rasa kecewa kakak ini. Untungnya ada pak guru. Bisa curhatin isi hati kakak.”
“Itulah gunanya teman, kak.”

Kak Ani berpaling kepada ku lalu tersenyum manis. Kami terus mengobrol lagi dan tidak lama kemudian, kami tiba di luar rumah kontrakan ku. Sebelum meninggalkan rumah sewa ku, Kak Ani sempat bertanya sesuatu kepada ku.

“Pak guru, tunggu bentar ya!
“Ada apa, kak?”
“Akhir pekan ini pak guru senggang gak?”
“Rasanya sih begitu, kak. Kenapa?”
“Kakak mau pergi ke kota Y wikend ini. Saja mau shopping. Kakak udah lama gak pergi jalan-jalan. Pak guru bisa temenin kakak, gak?

Aku pura-pura berfikir sejenak walaupun sebenarnya aku memang ingin sekali menemaninya. Siapa yang bakal menolak ajakan dari wanita yang menawan seperti wanita di hadapan ku itu? Kak Ani menjadi tidak sabar karena aku begitu lama memberi jawaban.

“Ayolah, Pak guru bisakan temani belanja, ok?
“O.K..no problem! Tapi cuman temani kakak belanja aja yah”
“Gitu dong, pak guru. Nanti kakak kasih tau pas kita mau pergi.”

Aku mengangguk tanda paham. Kak Ani kelihatan gembira. Setelah Kak Ani pergi, aku pun mengangkat barang-barang yang aku beli tadi masuk ke dalam rumah.
Pada waktu sore di hari yang sama, aku seperti biasanya duduk di depan pintu rumah kontrakan ku sambil membaca. Memang itu lah kebiasaan ku jika aku tidak pergi berjoging. Sore itu agak mendung menandakan hari akan hujan. Aku segera mengangkat pakaian yang ku jemur ke dalam rumah. Kemudian aku kembali membaca majalah kegemaran ku.

Sedang asyik membaca, tiba-tiba aku disapa oleh seseorang. Aku mendengar suara perempuan. Aku mengangkat muka ku dan menoleh pada sosok seorang perempuan yang sedang mendorong sepedanya ke arah ku. Dia tersenyum manis. Di belakangnya terpasang sebuah tas.

“Mbak Ina! mau apa ke sini?” Aku agak terkejut melihat kehadiran Ina di tempat ku.
“Ina emang suka lewat sini kok.”
“Memangnya Ina tinggal dimana, lewat sini?”
“Ina menyewa kontrakan di kampung bawah. Tadi Ina pergi ke rumah saudara Ina. Ina awalnya ingin numpang bermalam disana tapi dia tidak ada di rumahnya. Lalu lewat sini, Ina ngelihat Lukman duduk di depan”
“Mau kemana sekarang mbak?”; tanya ku lagi.
“Mau pulanglah, tapi Ina mau mampir sini dulu. Kawan-kawan Ina pergi ke kota Y pagi tadi. Ina cuma sendirian di rumah. Ina malas mau pulang duluan. Boleh Ina numpang sebentar?”
“Silakan duduk”; Aku menjemput Ina duduk di atas bangku panjang yang terletak di tepi pintu. Ina sempat menolehkan kepalanya ke dalam rumah ku dari luar.
“O.K juga tempat tinggalnya Lukman ini. Tapi apa gak takut tinggal seorang diri dalam rumah? Cuma rumah ini aja di depan jalan ini , lainnya di belakang”
“Tak ada yang mesti ditakutkan. Lagian juga dekat dengan rumah pemiliknya.”

Belum juga lama kami berbincang, hujan mulai turun dengan lebat sekali disertai dengan angin yang kuat. Aku segera mengajak Ina masuk ke dalam rumah dan menutup pintu seta jendela. Bunyi hujan jatuh menimpa atap seng rumah kontrakan itu begitu keras sekali sehingga kami terpaksa mengobrol dengan suara yang keras juga.

Sambil menunggu hujan reda, kami kembali mengobrol. Sebelum itu, aku masukkan sepeda Ina ke dalam rumah khawatir akan dicuri orang. Banyak hal yang kami obrolkan hingga tidak terasa waktu berlalu. Aku sempat membuka jendela dan melihat ke luar rumah. Tidak ada tanda-tanda hujan akan reda karena masih lebat meski tidak lagi disertai angin yang kuat. Suasana juga sudah mulai gelap. Aku melirik jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 6 malam. Perutku berbunyi menandakan ia perlu diisi segera.

“Mbak Ina, saya mau makan dulu nih. Ayolah kita sama-sama makan.” Aku mengajak Ina.
“Eh, gak usah lah, Man. Ina bisa makan di rumah nanti.”
“Gimana mau makan? Mau pulang juga belum tentu bisa. Kalau mau pulangpun gak akan saya bolehin.”
“Emang kenapa?”
“Lihat aja diluar. Hujan lebat. Sudah gelap gulita pula. Kalau terjadi apa-apa diluar, mbak juga yang susah. Sudahlah mbak biar bermalam disini saja. Besok pagi baru pulang”
“Bener gak papa gitu, Man?”
“Emangnya saya suka ngebohong..”
“Ina takut ih..” Ina memandang ku sambil tersenyum manja.
“Kalau pulang malam, takutnya ada apa-apa”
“Baiklah, baiklah”
“Sudahlah, Mbak Ina bermalam disini saja. Mbak jangan cemas. Saya mau siapin makanan dulu.”

Aku bangun meninggalkan Ina menuju dapur. Ina juga bangun lalu mengikuti ku. Aku memanaskan kembali makanan yang telah aku masak pada siang tadi. Ina membantu aku menyajikan makanan. Setelah itu kami makan bersama. Aku agak bernafsu makan kerana makan ditemani pada malam itu. Sambil makan, kami mengobrol tetapi kami lebih banyak mengobrol tentang makanan.

Selesai makan, kami membereskan meja makan. Ina mencuci wadah di wastafel sementara aku membersihkan meja. Kemudian kami kembali duduk di ruang tamu. Ina kelihatan agak kikuk berada dalam kontrakan ku itu. Maklumlah rumah orang. Dia duduk di hadapan TV sambil menjelajahi timbunan majalah dan buku-buku cerita yang disusun di atas rak di bawah TV.

“Banyak juga koleksimu, Man. Boleh Ina pinjam kan?”
“Ambil aja. Saya udah baca semua. Eh, saya mandi dulu ya, Mbak. Duduk sini saja ya.. Baca buku yang mbak suka.”

Aku meninggalkan Ina di situ, mengambil kain handuk dan bergegas ke kamar mandi. Aku tidak berniat untuk mandi lama-lama karena tubuh ku tidak terasa gerah. Sambil mandi, aku membasuh pakaian kotor ku. Lebih kurang 20 menit kemudian, aku selesai mandi dan berpakaian. Kemudian, aku pergi mendapatkan Ina di ruang tamu.

“Mbak Ina, gak mandi?”
“Bentar lagi” Jawabnya pendek sambil membaca sebuah buku.

Aku melihat judul buku yang sedang dibacanya. Buku itu berisikan koleksi cerita-cerita erotis. Aku tersenyum sendirian. Nampaknya Ina sedang khusyuk membaca. Dia menyandar pada dinding. Aku tidak berniat mau mengganggunya. Aku mengambil tas kerja ku dan mengeluarkan isinya. Persediaan untuk mengajar pada esok hari masih belum aku selesaikan. Aku mulai menyiapkannya termasuk alat-alat media mengajar. Sesekali aku melirik ke arah Ina yang kerap mengubah cara duduknya.

Setelan kerjaan mengajarku siap, aku memasak air di dapur karena aku ingin bikin kopi panas. Setelah air itu mendidih, aku menyediakan segelas kopi. Kemudian aku kembali ke ruang tamu untuk menonton TV. Aku menghidupkan TV dan duduk merentangkan kaki di depannya. Ina masih membaca. Tiba-tiba Ina bersuara.

“Ina mau mandi dulu.” Katanya lalu berdiri
“Mbak bawa handuk?” tanyaku.
“Bawa. Ina ada bawa pakaian juga. Tadi kan Ina mau bermalam di rumah saudara Ina itu.” Jawab Ina sambil berlalu ke kamar mandi.

Aku tersenyum sendirian. Aku yakin sekarang Ina sedang mengalami desakan berahi setelah membaca buku itu tadi. Hanya orang yang tidak normal saja yang tidak terusik nafsunya bila membaca cerita-cerita erotis seperti dalam kisah di buku itu. Apalagi Ina mungkin sudah lama tidak disentuh lelaki. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di antara kami pada malam itu tetapi aku pasti tidak akan menolak untuk melalui malam yang penuh kenikmatan dan kehangatan bersama dengan wanita yang menggiurkan itu.

Siaran berita di TV mengejutkan aku dari lamunan. Aku kembali perhatikan layar TV di hadapan ku. Seketika kemudian aku terdengar pintu kamar mandi dibuka. Ina pasti sudah selesai mandi. Aku menoleh ke belakang dan melihat Ina sedang berdiri sambil mengeringkan rambutnya. Dia mengenakan celana stretch selutut dan T-shirt putih yang agak kecil ukurannya sehingga dadanya kelihatan menonjol ke depan. Apabila bajunya terangkat ke atas sedikit, aku dapat melihat bentuk kelamin nya yang aduhaii, begitu tembem sekali. Aku menelan air liur kerana sangat bernafsu melihat pemandangan itu. Cepat-cepat aku mengalihkan pandangan ku ke arah TV kembali.

Ina beralih dari belakang dan duduk bersimpuh di sebelah ku. Aku tercium bau wangi dari tubuhnya. Dia masih mengeringkan rambutnya. Kemudian dia mengambil kembali buku yang dibacanya tadi dan membuka halamannya.

“Belum selesai baca toh?” tanyaku.
“Belum, tinggal dikit lagi.”
“Bagus gak ceritanya?”
“Lumayan, Emangnya Lukman doyan baca tulisan kaya gini yah?”
“Enggak juga sih. Kadang-kadang aja. Kalau pergi ke toko buku, saya memang suka beli 2 atau 3. Kalau mau, Mbak bawa saja yang mbak suka pulang ke rumah besok. Itu masih ada lagi di rak.”
“Nantilah Ina pilih. Ina baca yang ini habis dulu.” Ina menyambung bacaannya dan aku kembali menonton. Belum pun lama duduk, Ina mengubah kedudukannya. Dia rebahan tengkurap sambil menyangga tubuhnya dengan siku tetapi tidak lama. Mungkin dia tidak begitu nyaman.

“Ina pinjam bantal boleh gak? Ina gak enak dengan lantai semen ni. Keras!”
“Ambil saja sendiri di kamar itu.”

Ina segera bangun untuk mengambil bantal. Kemudian dia kembali dan merebahkan diri lagi di sebelah kananku. Aku melirik ke arahnya. Aku memperhatikan bagian belakang tubuhnya dari kepala sehingga ke bokongnya. Aku pastikan Ina tidak memakai bra kerana aku tidak dapat melihat cetakan bra nya di balik bajunya itu. Hingga membayang bentuk puting buah dadanya kelihatan di dadanya.

Semakin lama aku melihat pemandangan itu, semakin bernafsu pula aku. Aku merasa sukar untuk tetap menyimak acara di TV. Pikiranku sudah mulai melayang jauh. Aku mulai membayangkan suatu kenikmatan. Lama aku memikirkan bagaimana caranya aku dapat “menawan” wanita di sebelahku itu dan membawanya ke dalam pelukan ku. Aku memutuskan untuk mencoba apa saja cara yang aku bisa pikirkan sehingga wanita itu dengan rela menyerahkan dirinya kepadaku. Jika berhasil, malam itu pastinya akan dipenuhi dengan kenikmatan yang tiada taranya.

Aku sudah nekad. Aku harus melakukan sesuatu. Apa yang terjadi, terjadilah. Aku melirik kearah Ina lagi sambil mengubah cara duduk ku bersila.

“Heyy” aku menyenggol bahu kiri Ina dengan lenganku. Aku menunduk lalu mendekatkan wajah ku ke sisi kiri kepalanya.
“Khusyu banget bacanya… sampai gak peduli dengan saya!” Aku coba menarik perhatiannya tetapi Ina tidak berkata apa-apa. Ina hanya tersenyum sedikit. Tanpa disengaja, tangan kanan ku merangkul bahu kanan Ina.

“Jangan terlalu serius, Nanti nafsu naik, Kalau naik nanti, Mbak juga yang susah..” usik ku separuh berbisik.

Perhatian Ina pada buku mungkin sudah sedikit beralih sehabis menerima gangguan ku. Aku terus menundukkan kepala sambil coba memandang terus wajahnya. Tiba-tiba senyumannya melebar. Ina mengangkat buku yang dipegangnya lalu menutup mukanya. Agaknya dia merasa malu. Aku tersenyum juga ketika melihat gelagatnya itu.

“Eee, macem-macem banget sih kamu! Ina lagi baca nih!” Suaranya dibuat-buat galak tetapi malah kedengaran begitu manja sekali.
“Mbak baca saja. Saya gak akan ganggu” Kataku sambil menepuk-nepuk belakang bahunya.

Aku tidak mengangkat tangan ku dari punggung Ina malah terus menepuk-nepuk lembut di situ. Aku melihat ke arah TV kembali. Pada saat yang sama, aku meneruskan aktivitas tangan ku. Sesekali aku menggosok-gosok dengan perlahan. Ina pun tidak coba menghalangi aku berbuat demikian. Walaupun aku memang ingin merasai kenikmatan tubuh Ina ketika itu, aku tidak mau tergesa-gesa. Aku tidak mau Ina merasa tidak senang atau ketakutan jika aku terlalu berani.

Untuk sesaat kami langsung tidak bersuara. Yang kedengaran hanyalah suara dari TV. Dalam momen itu Ina mengubah posisinya beberapa kali. Sebentar tengkurap, sebentar berbaring terlentang dan sebentar kemudian dia berbaring miring. Aku tidak tahu pasti apakah dia merasa lelah atau malah dia sudah dikuasai nafsu akibat membaca cerita-cerita erotis itu. Melihat pergerakan-pergerakan yang dibuat oleh Ina itu, aku mengalihkan perhatian ku kembali kepadanya. Aku merangkul bahu kanan Ina lagi ketika dia telungkup di sebelah ku kembali.

“Mbak Ina, kenapa sih? Kayaknya ga nyaman? Sebentar-bentar baring, sebentar-bentar tiarap?”
“Capek”, Jawabnya pendek.
“Masa iya? Jangan-jangan udah kena pengaruh cerita tuh…” Aku coba mengusiknya lagi dengan harapan ia akan membuka ruang untuk aku “menawannya”.

Ina tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Aku merasa lega dan keyakinan ku mulai muncul. Kalau tepat caranya, pasti wanita itu akan dapat ku tawan. Aku memberanikan diri untuk merangkulnya sambil berbisik kepadanya.

“Sudah lah mbak. Jangan baca terus. Nanti basah tuh di bawahnya.”
“Memang udah basah, kali” Ina menjawabku.

Aku tidak menduga Ina akan berkata begitu tetapi hati ku melonjak kegembiraan. Ingin rasanya aku menerkam wanita itu ketika itu juga tetapi aku tetap tidak mau tergesa-gesa. Aku kembali meletakkan tangan ku pada punggung Ina.

“Mbak Ina, mbak gak pakai bra ya?” Entah kenapa aku keceplosan hingga pertanyaan itu keluar dari mulutku.
“Nggak..Ina memang biasa gak pakai bra kalau tidur malam.”
“Pantesan putingnya keliatan nonjol…”
“Lukman perhatiin puting Ina ya?”
“Iya… bentuknya kayaknya besar tuh.”

Ina mendongak ke arah ku saat mendengar kata-kataku. Aku terkaget tai berusaha rileks saja. Aku semakin yakin telah berhasil menarik perhatian Ina.

“Menurut Lukman puting Ina besar?”
“Mana saya tau… Belum pernah saya lihat. Saya cuma lihat bentuknya dibalik baju mbak aja.
……..
Eh mbak gak bagus loh perempuan tengkurep kayak gitu.”
“Emang kenapa?”
“Kata orang, tengkurep begitu bisa bikin buah dada perempuan menggelayut dan kelihatan penyek apalagi yang berdada besar kayak mbak.”
“Ah, masa iya sih?”

Aku tidak menjawabnya. Aku tidak pasti apa Ina termakan kata-kata ku atau tidak tetapi dia segera bangkit dari tengkurap. Kupikir dia hendak duduk tetapi dia ternyata memilih berbaring. Aku agak kecewa karena tidak berpeluang untuk merangkulnya lagi apabila dia berbaring begitu.

Kemudian dia bersuara, “Sesekali tengkurap gakkan bikin dada Ina terus jadi begitu.”
“Jangan marah, Saya cuma kasih tau apa yang saya dengar dari orang.”
“Ina gak marah… cuma bete.. Udah dibilang puting Ina besar. Habis itu dikatain dada Ina menggelayut.”
“Alaaa, jangan gitu dong mbak. Saya gak pandai ngerayu orang. Sorry..sorry..ok?” Ina memanyunkan bibirnya. Aku tahu dia cuma pura-pura kesal tetapi aku hadapi juga perangainya itu. Perempuan memang suka bila kita menunjukkan bahwa kita sanggup hadapi ulah mereka..

“Jangan bete lagi… ok? Sini… saya cium sedikit pipi nya…” kataku lalu menunduk mengecup lembut pipi kanan Ina. Dia tidak coba mengelak atau mencegah ku. Ia bagaikan lampu hijau untuk meneruskan apa yang aku ingin lakukan seterusnya.

Untuk menghangatkan suasana yang semakin mesra itu, aku coba bergurau dan mengusik Ina. Dia masih memegang buku yang dibacanya tetapi aku yakin dia tidak membacanya sepenuh perhatian. Mungkin dia sedang menanti apa yang akan aku lakukan seterusnya. Tangan kanan ku memang sedari tadi sudah berada di tepi perutnya setelah aku mencium pipinya.

“Mbak Ina, apa iya dada mbak Ina gak menggelayut?” aku bertanya sekadar bergurau. Ina tiba-tiba mencubit rusuk kanan ku. Aku segera menangkap tangannya dan terus ku genggam erat. Aku tidak mau melepaskannya dengan alasan aku tidak mau kena cubit lagi. Ina tidak memprotes.

“Eh, jawab dong mbak..”
“Enggak kok, kalo Ina lihat sih masih kenceng” jawabnya tanpa memandang ku.
“Biar gak ngegelayut digimanain sih mbak?”
“Ina pakai cream.”
“Cream apaan sih?”
“Ya gitu cream pengencang dan penguat otot-otot payudara.”
“Bukan cream untuk membesarkan payudara?”
“Ngapain mau dibesarkan lagi. Udah cukup besar juga!”
“Oh, ngefek gak produk nya?”
“Entah lah tapi kayaknya sih ada efeknya juga.”

Aku menjadi tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang cream itu. Sebelum itu aku pernah mendengar tentang cream seperti itu tetapi tidak pernah sekalipun aku melihat sendiri bentuknya maupun efek pemakaiannya.

“Mbak pakai cream itu tiap hari?”
“Iya… rugi dong kalau gak dipakai, Udah harganya mahal.”
“Mbak make creamnya kapan?”
“Waktu malam sebelum tidur. Olesin dan urut aja.”
“Mbak udah make creamnya tadi?”
“Belum sih”
“Mbak bawa cream itu?”
“Bawa, di tas tuh. Lukman mau ngapain dengan benda tu? Mau make juga? Hehehe”
“Hisshhh! Saya mau lihat doang kok mbak”

Tanpa disuruh, Ina terus bangun dan pergi mengambil cream itu. Kemudian dia kembali dan memberikan cream itu kepada ku. Ina berbaring kembali. Aku memperhatikan wadah cream itu. Sempat juga aku mencium aroma cream itu.

“Harum” kata ku.”Makenya gimana nih mbak?” tanya ku kemudian.
“Oles dan urut. Kan tadi Ina dah bilang?”
“Iya, tapi mau olesin dan urutnya dimana?”

Ina tertawa terkikik. Aku menjadi gemas saat melihatnya ketawa begitu. Tubuhnya bergoncang saat dia tertawa. Buah dadanya yang montok itu pun turut bergoncang.

“Olesin pangkal payudara… dan urut lebih kurang 10 menit hingga cream itu menyerap ke dalam kulit dan kering.” Jelasnya.
“Hmm, tadi mbak bilang mbak Ina belum ngolesin cream ini kan?”
“Iya, emang kenapa?”
“Saya oles dan urut creamnya untuk mbak boleh gak?”
“Hisshhh, gak mau ah!”
“Emang kenapa?”
“Ina malu, kalau kamu lihat tubuh Ina!”
“Laah, kenapa mesti malu? Cuma saya sendiri yang lihat kok. Lagian, bukannya saya udah lihat tadi sore. Masa mbak lupa yang di kios?”
“Ganjen!” kata Ina sambil coba mencubit aku lagi tetapi aku masih sempat menangkap tangannya.
“Mbak Ina baring aja, biar saya yang olesin yah?”
“Ina malu, lampunya nyala jadi terang gini”
“Gak apa, nanti saya matiin deh. Kita pakai cahaya dari TV doang, ok?”

Aku segera bangun untuk mematikan lampu. Hati ku melonjak-lonjak kegembiraan. Peluang sudah terbuka luas untuk ku. Ruangan itu serta merta menjadi gelap. Hanya cahaya dari TV saja yang menerangi ruangan itu membuat suasana menjadi romantis. Aku mendekati Ina kembali. Tanpa menunggu aku duduk di sebelah tubuh Ina. Sebelah kaki ku berlipat di bawah pantatku. Sebelah lagi aku gunakan untuk menyangga tubuhku agar lebih mudah aku mengurut nanti.

Dengan perasaan agak berdebar-debar aku mendekati tubuh Ina dan menyentuh perutnya. Sebelah kakinya selonjor dan yang sebelah lagi dibengkokkan. Perlahan-lahan aku mendorong baju yang dipakainya ke atas. Aku sempat melihat wajah Ina. Dia hanya perhatikan apa yang aku lakukan. Aku menarik bajunya ke atas sehingga buah dadanya jelas kelihatan. Sungguh aku terpesona melihat pemandangan di hadapan ku itu. Buah dada Ina memang seperti bayangan ku. Aku menaksir ukurannya mungkin 34d atau 36d. Putingnya sebesar kuku ibu jari tanganku. Bentuk yang besar itu membuatkan buah dadanya jatuh ke sisi tubuhnya tetapi tetap menonjol keatas.

Aku mengambil cream payudara tadi dan kemudian bertanya kepada Ina tentang cara-cara mengurut yang betul. Setelah dijelaskan oleh Ina, aku menyuruh Ina memegang bajunya sementara aku mengoleskan cream itu di sekeliling pangkal kedua buah dadanya. Perlahan-lahan tetapi yakin, aku mulai mengurutkan. Aku memegang pangkal buah dada kanan Ina dengan kedua telapak tangan ku dan mulai mengurut ke atas tetapi aku tidak menyentuh putingnya. Aku melakukannya beberapa kali sebelum aku mengurut secara memutar ke arah luar tubuhnya. Selesai dengan buah dada kanan, aku beralih ke buah dada kirinya. Aku melakukan urutan yang sama seperti tadi.

Setelah beberapa menit, aku mengoleskan cream lagi. Aku mau mengulangi lagi urutan ku karena aku memang tidak berniat untuk berhenti. Aku sudah mulai melihat tanda-tanda yang menunjukkan Ina sedang menikmati urutan ku tadi. Nafasnya tertahan-tahan setiap kali aku melakukan urutan. Dadanya terangkat-angkat mengikut irama urutan ku. Kakinya pun bergerak-gerak. Apabila aku melirik ke arah wajahnya, aku melihat matanya terpejam rapat. Gigi atasnya menggigit bibir bawahnya. Semua itu menunjukkan nafsu sudah menguasainya.

Aku tidak mau berlama-lama lagi. Urutan ku pada payudara Ina dimulai sekali lagi. Kali ini, agak lebih kuat agar Ina lebih merasakan urutan itu. Setiap kali aku mengurut ke atas, aku sengaja menyentuh putingnya sehingga ia mulai kelihatan mengeras! Tidak cukup dengan itu, aku turut memencet-mencet lembut putingnya. Tubuh Ina terangkat-angkat lagi. Bergantian buah dada itu diurut tangan ku dengan penuh semangat. Aku pastikan Ina sudah dibuai oleh kenikmatan yang dialaminya. Nafasnya sudah tidak menentu. Sesekali dia menggenggam tangan ku.

“Enak gak saya urut?” bisik ku di telinganya.
“Enak.. Enak, Man… Enak, pak guru…” suaranya seperti sulit untuk dikeluarkan. Aku tersenyum. Memang jelas Ina sudah sulit untuk menahan nafsunya. Aku sendiri juga begitu. Nafsuku memang sudah terasa di ubun-ubun kepala. Urutan ku sudah tidak beraturan lagi. Aku tidak hanya mengurut malah meremas-remas buah dada Ina semauku.

“Mbak Ina, buka bajunya..” aku berbisik di telinganya sambil tangan ku coba untuk menarik bajunya ke atas.

Ina tidak menjawab apa-apa. Matanya masih terpejam rapat tetapi aku yakin dia mendengar kata-kataku. Ina mengangkat sedikit tubuhnya untuk memberi ruang untuk aku melepaskan bajunya dari arah kepalanya. Bajunya aku lepaskan. Kini tubuh montok itu sudah separuh telanjang. Hanya bagian bawah tubuhnya yang masih bertutup. Aku menatap tubuh montok itu dengan penuh nafsu sambil tangan ku merayap dari perutnya sehingga ke dadanya. Tiba di dadanya, aku menjamah buah dadanya dan meremas lembut. Kedua tangan Ina memegang tangan ku, mengikuti setiap pergerakannya.

Aku sudah dikuasai nafsu. Aku menunduk, memberanikan diri untuk mengecup pangkal buah dada Ina. Ina segera menangkap kepala ku. Aku kira Ina mau menahan atau mendorong kepala ku tetapi tidak. Sebaliknya dia menarik kepala ku membuat mulutku terus menempel pada buah dadanya. Aku mengecup buah dadanya lagi berkali-kali. Aku sengaja tidak mengecup atau menyentuh putingnya, hanya mengecup dan menjilat lembut di sekitar pangkal kedua buah dadanya saja. Sekali-kali aku menghisap gunung kembar miliknya. Tubuh Ina terangkat-angkat seolah-olah menginginkan aku menyentuh puting buah dadanya. Suara desahan dan nafas Ina sudah sedari tadi memenuhi ruangan itu bersamaan dengan bunyi nafasku sendiri dan bunyi hujan yang deras di luar rumah.

Aku meneruskan kegiatanku. Tangan ku merayap ke sana sini di atas tubuh Ina. Beberapa kali juga aku terpaksa mengubah cara duduk ku agar lebih nyaman. Bukan hanya buah dadanya yang menerima serangan ku tetapi seluruh bagian tubuhnya yang sudah terbuka menjadi sasaran kecupan, jilatan dan hisapan ku. Tubuh Ina meliuk-liuk saat menerima serangan ku yang bertubi-tubi.

“Hisap, Man, hisap puting Ina, Oouuhhh..” Ina merintih, meminta aku melakukan seperti yang diinginkannya.

Aku sengaja tidak memperdulikannya. Aku masih bersemangat untuk menyerang bagian lain pada tubuhnya. Tangan ku yang pada mulanya hanya asyik bermain dengan buah dada Ina mula merayap ke bawah, menuju ke paha montok Ina. Aku merasa kurang nyaman melakukan aktivitas cabul ku di tubuh Ina dalam keadaan menunduk dengan separuh duduk begitu. Belum sempat aku mengatur kedudukan tubuh ku, Ina menarik kepala ku dengan kedua tangannya sehingga aku terpaksa merebahkan tubuh ku di sisinya. Dia menarik muka ku ke dadanya.

“Cepat… Man. Hisap puting Ina..please…”

Aku menuruti kehendaknya. Putingnya yang keras itu mulai ku jilat sekelilingnya lalu aku hisap-hisap lembut. Aku memegang pangkal buah dada Ina dan menekannya sehingga buah dadanya tertonjol ke atas. Kemudian aku melahap puting Ina hingga ke pangkalnya dan seterusnya menghisap dengan kuat sebelum aku melepaskannya kembali. Aku mengulangi perkara itu beberapa kali sehingga Ina mendesah-desah dan mengerang. Suara erangannya membuat aku semakin bernafsu.

Nafas ku agak berat dan sulit karena Ina yang merangkul tengkuk ku dengan agak kuat. Untuk sementara aku berhenti menyerang buah dadanya dan mengalihkan perhatian ku ke bagian bawah tubuh Ina. Kami sudah sama-sama terbaring. Aku meletakkan paha ku di antara selangkangan Ina sementara tangan ku menarik paha kanannya untuk menjepit pahaku. Setelah merasa agak nyaman dengan posisi badan kami begitu, aku kembali menyerang dada Ina. Sambil sengaja menggosok-gosok pahaku di atas tonjolan yang berada di celah selangkangan Ina membuat Ina semakin kuat menjepit paha ku.

Aku mulai merasa sedikit bosan setelah cukup lama bermain-main dengan buah dada Ina. Aku beralih arah. Lehernya yang terpampang kini menjadi sasaran ku. Mulutku terus saja mendarat di atas kulit lehernya yang licin. Aku mencium aroma harum di situ. Aku mengecup lembut diselangi dengan jilatan-jilatan yang bernafsu. Dari leher, aku beralih pula ke atas. Bibir Ina yang separuh terbuka itu dipaksa menerima kehadiran bibir ku. Bibir kami bertaut erat. Lidah kami saling membelit. Kulumannya menjadi hangat, saling berlarutan untuk sekian waktu.. Bibir kami terlepas hanya untuk mengambil nafas dan kembali bertaut lagi.

Tangan ku tidak berhenti-henti bermain di dada Ina, di buah dadanya dan putingnya. Paha ku menekan-nekan celah selangkangannya. Mulut kami masih saling berkuluman. Keinginan ku hanya satu saja saat itu yaitu membawa Ina mencapai puncak berahinya. Tetapi aku harus melakukan perananku dengan sebaik-baiknya.

“Mbak Ina, kita masuk kamar? Gak nyaman disini” aku berbisik di telinga Ina.

Ina tidak menjawab tetapi turut bangkit dengan ku. Aku membantunya berdiri dan memimpinnya masuk ke dalam kamar tidur. Sempat juga tangan ku meremas-remas buah dada Ina ketika kami berjalan. Di dalam kamar tidur, aku merebahkan Ina di atas kasur yang hangat. Bibir kami bertautan kembali dan kami berkuluman. Pada awalnya agak lembut tetapi semakin lama bertaut, kuluman menjadi semakin hangat.

Tangan ku mulai merayap ke celah selangkangan Ina. Seluruh kawasan itu dijamah buas oleh tangan ku. Dari luar celana yang dipakai oleh Ina, aku mulai menggosok-gosok bagian atas vaginanya. Ina semakin sering mengerang bila aku menyertakan gosokan tanganku dengan kuluman pada puting buah dadanya. Tubuhnya terangkat-angkat setiap kali aku menghisap putingnya dengan agak kuat.

Dorongan nafsu yang kuat membuat aku semakin tidak sabar. Aku ciba untuk menanggalkan celana pendek yang dipakai oleh Ina. Dia membantu dengan mengangkat pantatnya. Aku meloloskan celana pendek itu berserta dengan celana dalam kecilnya. Kini, terbukalah segalanya. Dalam samar cahaya dari luar kamar tidur itu, aku dapat melihat bentuk segitiga di antara atas pahanya. Aku meraba daerah itu. Bulu-bulunya pendek saja dan halus. Aku coba menyusupkan jari ku ke celah vagina Ina. Nampaknya tempat itu sudah basah dan licin. Dan membuat aku semakin bernafsu.

Perlahan-lahan aku mengambil posisi di celah selangkangan Ina. Aku mendekatkan muka ku di celah kelaminnya. Ina seperti tahu apa yang aku mau lakukan. Dia memegang kepala ku lalu menariknya ke bawah, ke arah vaginanya. Aku menjulurkan lidahku menyentuh klitorisnya. Dengan lembut, aku mulai mengusik tonjolan daging kecil itu. Ina kegelian. Tubuhnya meliuk-liuk menahan geli dalam kenikmatan. Suara desahan dan erangan kecilnya semakin jelas kedengaran. Aku terus mengerjakan bagian itu. Tidak cukup dengan itu, lidahku menyapu seluruh vagina Ina dari luar hingga ke bagian dalamnya. Semuanya disertai dengan ramasan kuat pada buah dadanya. Ina juga tidak henti-hentinya menjambak rambut ku. Sebentar-bentar di tarik, sebentar-bentar di lepaskannya.

Setelah merasakan keadaan Ina sudah cukup siap, aku pun mulai melepaskan semua pakaian yang masih ada di tubuhku. Ketika aku berhenti sesaat untuk melepaskan semua pakaian ku, Ina tiba-tiba bangun lalu berlutut di sebelah aku. Dia membantu ku untuk membuka pakaian ku. Baru saja celana dalam ku dilepaskan, Ina terus menggapai batang penis ku yang sejak dari tadi sudah menegang keras. Ina mengusap-usap batang pusaka ku dengan lembut sambil kami berkuluman lidah. Aku pun ikut menyisipkan jari pada lubang vaginanya.

Aku merebahkan tubuhku ke belakang. Tanpa disuruh atau diminta, Ina terus menundukan kepalanya dan menjilati batang kelaminku. Setelah itu, dia pun mengulumnya. Nikmatnya dikulum dan dihisap begitu amat sulit untuk digambarkan. Bukan hanya aku tetapi Ina juga benar-benar menikmati apa yang dilakukannya. Dia mengulum dan menghisap sepuasnya.Karena merasa amat ngilu, aku terpaksa menghentikan Ina setelah membiarkannya beberapa waktu. Aku kemudian menarik perlahan tubuhnya ke atas tubuhku. Sekali lagi, seperti mengetahui keinginan ku, Ina menaiki tubuhku.

Ina mengangkangi aku yang terlentang sementara aku menyiapkan batang kontolku. Ina memegang batang kontolku lalu menempelkan kepala kontol (palkon)ku di pintu masuk memeknya. Dia terlebih dulu menggosok-gosok helm penis ku di situ sebelum dia mulai menurunkan tubuhnya. Aku merasakan kehangatan pada kepala penisku sesaat setelah mulai memasuki liang vagina Ina yang sudah licin. Perlahan-lahan namun begitu pasti, Ina menduduki batang penisku hingga semuanya habis terbenam. Ina mengerang di saat dia sudah habis menduduki batang zakarku, menelannya hingga bagian pangkal. Dia diam sebentar. Aku pun mulai meremas-remas dan mencubiti gemas puting buah dada Ina.

Selang beberapa saat, Ina mulai menaik-turunkan tubuhnya dengan agak perlahan. Aku tidak mau tinggal diam. Aku coba menekankan batang kontol ku ke atas. Sesekali aku hanya bertahan. Kemudian aku coba bangun dan menopangkan tubuh ku dengan siku kiri ku. Tangan kanan ku masih asyik dengan buah dada Ina. Mulut ku segera menyambar putingnya lalu ku hisap dengan kuat. Tindakan liarku agak membatasi pergerakan Ina. Dia mengubah pergerakannya yang semula naik turun menjadi bergerak maju mundur serta memutar membetoti penisku membuat kepala kontolku terasa seperti di belai dan ditarik-tarik. Amat ngilu sekali rasanya tetapi nikmat.

Adegan itu berlangsung untuk beberapa saat sebelum tubuh Ina memberikan isyarat bahwa ia akan mencapai orgasmenya. Aku dapat merasakan kontraksi otot-otot vaginanya yang semakin kuat berkedut. Begitu juga dengan otot-otot tubuh Ina yang mulai terasa menegang. Ina semakin kuat merangkul ku. Tidak lama setelah itu, dia menekan vaginanya ke bawah dengan kuat disertai dengan rangkulan yang kuat juga. Kedua pahanya juga mengepit badanku yang berada dibawahnya. Ina sudah tiba di puncak berahinya. Aku membiarkan dia untuk menikmati orgasmenya hingga orgasmenya reda.

Perlahan-lahan, aku merebahkan tubuhnya ke atas kasur lalu aku menindih tubuhnya. Sekali lagi aku mengambil posisi di antara celah kangkangnya. Aku membuka selangkangannya lalu membenamkan muka ku di belahan memeknya. Mulut dan lidah ku terus menyerang vagina Ina. Ina mengerang keenakan. Namun, aku tidak mau berlama-lama karena aku ingin segera meneruskan permainan hangat itu. Dengan pasti, aku menggiring batang kontolku ke memek Ina yang sudah cukup basah dan licin. Tanpa menemui hambatan, batang kontol ku terus meluncur masuk ke dalam liang memek Ina.

Ina mendesah. Aku mulai bergerak mendorong-tarik penisku dalam jepitan vaginanya. Perlahan pada awalnya tetapi semakin lama semakin cepat. Setiap hentakan aku lakukan dengan tempo terjaga sehingga Ina tidak henti-henti melenguh dan mendesah. Sesekali dia mengerang kecil. Aku mengubah posisiku dari semula berlutut menjadi bertelengkup di atas tubuh Ina. Tubuhnya yang cukup montok itu segera dipeluk lenganku dengan erat sekali. Tidak cukup dengan itu, jilatan, hisapan dan ciuman ku turut singgah di leher dan mulut Ina. Bersamaan dengan genjotan penisku pada vagina Ina dengan penuh nafsu.

Selang beberapa menit, aku sudah merasakan akan orgasme ku. Aku mempercepat gerakan pompaan ku. Aku sempat berbisik di telinga Ina. Mendengar bisikan ku, Ina seperti mengerti apa yang harus dilakukannya. Dia semakin kencang memeluk dan buas mengulum lidahku. Kedua kakinya diangkat dan dilingkarkan di atas pantatku seolah menahan penisku mundur dari jepitan vaginanya. Nampaknya dia juga menginginkan lagi klimaksnya datang. Maka, kami sama-sama berpacu berahi dengan hebat.

Dengan satu gerakan yang kuat, aku membenamkan batang kontolku jauh ke dalam liang memek Ina. Bersamaan dengan itu juga, ujung tongkat kemaluanku memuntahkan isinya yang kental. Ina merespon dengan memelukku erat sekali sambil kakinya mengunci tubuhku. Tubuhnya mengejang hebat menandakan bahwa dia juga telah mencapai orgasmenya. Aku menunggu hingga batang kelelakianku selesai memuntahkan semua isinya sebelum aku merebahkan tubuh ku di sebelah tubuh Ina. Dia tersenyum memandangku. Jauh di dalam hatiku, aku merasa amat puas sekali. Aku yakin Ina juga begitu.

Incoming search terms:

  • buku cerita dewasa
  • cerita dewasa gara gara ngintip
  • Gara-gara paha Teteh Aku Horny
  • gara gara horny
  • ngentot gara gara ngintip
  • Cerita penuh pra2 gak ngeliat jadi horny
  • cerita gara gara ngintip
  • disaat mbak ku yg manis lagi horni
  • ku kelonin tetangga kontrakanku
  • Cerita ngentot gara-gara ngintip

Tags: #cerita baru #cerita daun muda #cerita dewasa #cerita ml #cerita ngentot #cerita pemerkosaan #cerita porno #cerita sex

vimax
Agen Betting Terpercaya Obat Pembesar Penis
Obat Pembesar Penis Obat Pembesar Penis

Tinggalkan pesan "Cerita Dewasa – Gara Gara Baca Buku Jadi Horny"

Penulis: 
    author