Cerita Dewasa Nikmatnya Kontol Besar Pak Niko

2516 views
Agen Betting Terpercaya Obat Pembesar Penis
Obat Pembesar Penis Obat Pembesar Penis

Cerita Dewasa Nikmatnya Kontol Besar Pak Niko – Dalam pernikahanku yang baru saja bercerai aku dikaruniai seorang anak perempuan. Namaku soffi, umurku saat ini belum terlalu tua 30 tahun, aku juga memilki wajah cantik dengan kerudung yang selalu menghiasi keplaku dengan rapat. Setelah kurang lebih sebulan aku menjadi single perent aku meresa tidak mampu untuk menghidupi anakku, lalu aku berpikiran untuk menitipkan anakku ditempat neneknya. Karena anakku yang masih kecil maka tidak susah aku tinggal, karena seminggu sekali aku juga menengoknya. Aku menitipkan ankku dirumah neneknya karena aku ingin mencari pekerjaan tanpa ada yang menjadi bebanku.

 

Cerita Dewasa Nikmatnya Kontol Besar Pak Niko Cerita Dewasa Nikmatnya Kontol Besar Pak Niko Cerita Dewasa Nikmatnya Kontol Besar Pak Niko 94898533ec53344b1048c679908435ff

Cerita Dewasa Nikmatnya Kontol Besar Pak Niko –  Setelah anakku dirumah neneknya aku segera mencari pekerjaan. Dengan hanya berbekal ijazah SMA aku melamar pekerjaan disebuah peruasahaan biro jasa. Dan setelah aku memasukkan lamaranku, beberapa hari kemudian aku mendapat panggilan untuk bekerja dan akhirnya aku diterima untuk bekerja, disana aku dipekerjakan sebagai kariawan biasa. Aku mempunyai bos yang keturunan china namanya pak Niko, umurnya sekitar 40 tahunan, dia sering melirikku dengan pandangan mata yang menggodaku saat dikantor, tapi aku cuek dengan pandangan pak Niko. Semakin lama aku bekerja disitu perlakuan pak Niko menjadi tak karuan, dia sering terang-terangan menggodaku, bahkan tak jarang dia mencolek tubuhku saat jam istirahat. Sebenarnya aku tak nyaman dengan perlakuan bos ku ini, tapi mau kerja apa lagi kalau aku mau keluar dari sini, maka dengan terpaksa aku membetah-betahkannya untuk kerja disitu.

Dengan jilbab yang selalu menutupi wajahku dan aku juga selalu menutup pakaianku dengan rapat, menjadikan aku dihargai dikantor, hanya bosku saja yang tidak menghargaiku mungkin karena pak Niko mengetahui kalau aku sudah janda makanya aku diperlakukan seenaknya sendiri. Setip hari aku menggersah dengan perlakuan pak Niko yang semakin menjurus. Pak Niko sekarang juga sudah mulai memegang pantatku saat aku menunduk mengambil suatu barangku yang terjatuh dengan sambil tersenyum sehabis memegang pantatku. Aku hanya terdiam saja dengan perlakuannya.

Saat aku dirumah sendirian, sebagai wanita normal aku merindukan belaian dari seorang laki-laki. Setiap malam aku membayangkan aku sedang disetubuhi oleh seorang laki-laki yang membuat birahiku menjadi sekejap naik. Tidak kupungkiri dibalik kerudung ketatku, setiap malam kalau sedang birahi aku selalu melakukan masturbasi sampai spermaku Ngecrot. Jujur aku sangat rindu akan Penis seorang laki-laki. Tapi aku hanya memendam dan aku hanya bisa melampiaskannya saja pada sebatang pisang. Aku melakukan itu karena aku ingin melampiaskan birahiku dan aku sangat menjaga Vaginaku dari Penis laki-laki yang bukan suamiku.

Sampai suatu ketika aku mendapatkan kabar dari ibuku yang tinggal di kota Yogyakarta, bahwa anakku sakit keras, hingga harus opname. Bahkan dokter menyatakan bahwa anakku harus dioperasi secapatnya, kalau tidak, bisa fatal. Untuk biaya operasi tersebut butuh uang sebanyak lima juta rupah. Orang tuaku menyatakan bahwa mereka telah kehabisan dana untuk biaya pengobatan anakku. Sementara, aku sendiri sudah kehabisan uang karena kini sudah tanggal tua. Uang hanya cukup untuk menyambung hidup beberapa hari. Aku pun bingung, harus mendapatkan uang darimana lagi. Masih banyak hutangku pada kawan-kawanku, sehingga aku segan untuk berhutang lagi pada mereka. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah mengeluh pada Pak Niko. Tapi aku merasa ngeri, karena itu berarti memberinya kesempatan untuk melecehkanku secara seksual. Aku pun menjadi ragu. Akan tetapi, karena aku sudah sangat panik, akhirnya aku beranikan diri untuk mengungkapkan hal itu pada Pak Niko. Dengan perasaan tidak karuan, aku memberanikan diri untuk menuju ruang Pak Niko. Saat itu, aku mengenakan jilbab warna pink sepanjang lengan, dengan baju kurung yang sewarna, serta rok panjang hitam dari bahan kain yang lemas. Dengan demikian, celana dalamku agak tercetak di permukaan luar rokku.

Tok… tok.. tok.. tok… suara ketukanku di kamar kerja Pak Niko. “Masuk” aku dengar suara pak Niko berseru dari dalam ruangan. Aku pun membuka pintu. Pak Niko yang sedang duduk di belakang meja kerjanya menatapku dengan tatapan mesumnya, yang seolah menelanjangi tubuhku. “Silahkan duduk”, katanya mempersilahkanku untuk duduk. “Ada apa cah ayu?” dia bertanya padaku dengan nada menggoda. Sambil menunduk, akupun mengatakan keperluanku pada pak Niko sambil terbata-bata. “Mmmaaaff Pak, anak saya sedang sakitt kerass…” Keringat dinginku mulai mengucur…. “Terus???” Pak Niko bertanya dengan nada sedikit ketus. “Mmaksud saya, saya mau pinjam uang sama bapak. Untuk pengobatan anak saya. Saya sudah tidak ada uang.” Ketika aku berkata seperti itu, pak Niko hanya mengangguk-angguk dengan tatapan melecehkan. “Mardaii, dengan berat hati saya katakan ke kamu, kalo saya tidak ada uang yang bisa saya pinjamkan ke kamu…?” “Tolonglah saya pak, anak saya sakit.. berikan saya lima juta rupiah saja… nanti bisa dipotong gaji saya” kataku menghiba.

Air mataku mulai mengalir dari sudut- sudut mataku. “Kamu tau kan, biro ini sedang kekurangan modal”, kata pak Niko dengan datar dan tenang. “Jumlah klien kita semakin sedikit, makanya pemasukan ke biro juga sedikit..” “Ya sudahlah, aku bisa usahakan uang itu” kata pak Niko. Kemudian ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan beberapa gepok uang 50ribu rupiahan. Ia pun memberikanya padaku. Setelah dihitung, ia telah memberikan uang padaku sebanyak 8juta rupiah, lebih banyak dari harapanku. Pak Niko berkata, Uang itu boleh kamu pinjam dulu. Kamu nggak usah mikirin ntar gimana mengembalikannya. “Udah, cepet, kamu bawa pulang… kamu tunggu anak kamu sampe operasinya selesai… kamu boleh libur…” Dengan perasaan senang dan rasa terima kasih yang tidak terkira, aku pun berpamitan dengan pak Niko dengan menyalami tangannya.. Aku pun bersyukur, operasi anakku berjalan dengan lancar.

Setelah itu, aku kembali bekerja di kantor Pak Niko. Semenjak itu, Pak Niko semakin menjadi-jadi dalam melecehkanku secara seksual. Karena huNikog budiku padanya, aku pun tak bisa berbuat apapun selain pasrah dengan perlakuan Pak Niko. Setiap kali berpapasan denganku, ia tak akan membiarkan pantatku lolos dari jamahannya. Seringkali, ia mengejutkanku dari belakang dengan cara meremas pantatku. Aku hanya bisa menjerit kecil. Semakin lama iapun semakin berani untuk menjamah tubuhku yang lain. Payudaraku dan pangkal pahaku pernah diremasnya. Yang aku heran, dia tetap paling suka meremas pantatku, walaupun ia sesungguhnya dapat dengan bebas untuk menjamahi payudara dan pangkal pahaku. Ketika aku sedang berdiri di dekatnya, ia mengajakku ngobrol sambil jarinya menelusuri belahan pantatnya. Dengan perasaan malu aku ingin menghindari setiap perlakuannya, namun ku tak berdaya. Sungguh, aku merasa menjadi seorang perempuan murahan yang bisa dinikmati oleh pria Cina itu demi sejumlah uang. Sungguh kontras dengan penampilanku yang selalu berjilbab sopan ini.

Suatu ketika, seorang pesuruh kantor bernama Pak Edo memberitahuku bahwa pak Niko memanggilku untuk datang ke ruangannya. “Mbak, Pak Niko manggil mbak ke ruangnya” “Huh… ada apa lagi nih??” tanyaku dalam hati. Pelecehan apa lagi yang kan aku terima? gumamku. “Mhhh…. iya pak… Nanti saya ke sana… “Cepet ya mbak, Pak Niko minta mbak datang cepet….” kata pak Edo sambil berlalu. “Iya… iya Pak Edo” kataku sambil tersenyum pada Pak Edo.. Hari itu aku mengenakan jilbab warna krem yan menutupi dua bukit mungilku, dengan baju kurung dan rok panjang. Dengan gontai dan perasaan yang tidak tenang akupun datang ke ruang Pak Niko. Tok… tok… tok ku ketuk pintu ruang Pak Niko. “Masuk” terdengar teriakan Pak Niko dari dalam ruangan. Aku pun masuk, dan Pak Niko mempersilahkanku duduk. Dengan senyum jahat tersungging di bibrnya, ia menatapku dengan pandangan nafsu. Aku hanya menunduk dengan muka yang malu bercampur cemas. “Mhhhhh, begini Mardaaa…., saya cuma mau informasikan ke kamu, kalau hutang kamu ke kantor sudah jatuh tempo. Kantor butuh uang itu segera. Kamu bilang mau angsur hutang kamu, tapi sampai sekarang, sudah tiga bulan, kamu sama sekali belum angsur. Saya udah kasih kamu keringanan looo….” Pak Niko berkata dengan nada serius. Jantungku berdetak keras, memompa darahku cepat sekali. Wah, celaka… pikirku.. Aku jelas tidak mampu untuk membayar hutangku. Bahkan untuk mengangsur pun aku tidak mampu. Kini hutang itu telah ditagih. Ohhhh… betapa malang nasibku, jeritku di hati.

“Mhhhh…. mmaaf pak, saya belum mampu membayarnya…” jawabku terbata-bata. “Kebutuhan saya banyak sekali, dan uang gaji saya saja tidak cukup” Tak terasa, air mataku mulai meleleh. “Iya, saya tau… tapi masalahnya, kantor ini juga butuh biaya. Kan sudah aku bilang, kalau biro ini lagi seret. Klien kita semakin sedikit?” suara Pak Niko mulai meninggi. Air mataku pun semakin deras mengalir. Tak sadar aku mulai sesenggukan. Dengan ujung jilbabku aku usap air mataku. Pak Niko masih nampak cuek, sambil sesekali melirikku. Sorot matanya menunjukkan kelicikan. “Hmmmmm… apapun kamu harus membayar hutang kamu…. Atau kita selesaikan saja secara hukum??” ancam Pak Niko. Aku semakin panik dengan ancaman itu… “Ssaya mohon jangan pak. Saya pasti akan bayar. Saya masih punya anak pak….” kataku tersedu-sedu. “Trus, kamu mau bayar pake apa? Kamu bilang nggak punya uang?” “Beri saya waktu barang satu minggu, saya bisa usahakan” jawabku putus asa. Satu minggu pun aku tidak yakin akan mendapatkan uang sejumlah itu. “Wah… wah… aku meragukan kamu bakalan sanggup membayar. Paling hanya menunda waktu. Gak ada gunanya. Saya nggak akan kasi keringanan lagi” “Sssayaaa mohon pakkk” aku berusaha menahan tangisku agar tak semakin keras.

“Mhhhhh… baik… baik…. Aku bisa kasih kamu solusi. Supaya kamu bisa lunasin utang kamu” Aku agak lega mendengar ucapan Pak Niko. Aku memandanginya dengan pandangan bertanya. “Mhhhhh… boleh tau apa solusinya pak?” ungkapku. “Kamu bisa bayar hutangmu dengan tubuh molek kamu itu” kata pak Niko sambil melirik padaku dengan sorot mata birahi. Bagai disambar petir, aku terkejut mendengar ucapan Pak Niko. Aku kehabisan kata-kata. “Nggak, nggak mau” jawabku sambil menangis. “Kamu bisa apa….? Kalo kamu nggak bayar sekarang, ya diselesaikan lewat hukum. Aku akan laporkan kamu ke polisi” ancam pak Niko. Dia sungguh lihai mempermainkan perasaanku. Aku merasa semakin putus asa. Aku hanya bisa menangis. tangisku yang tertahan pun mulai keluar juga. Namun Pak Niko tetap tak peduli. Aku hanya tertunduk sambil menangis. Air mataku telah basahi jilbabku. “Hehehe… lagian, kamu kan sudah lama jadi janda. Masa sih, ga kangen sama kontol? Kamu puas, hutangmu lunas… Tawaran menarik kan? goda pak Niko. “Kamu tinggal ngangkang aja, biar Memekmu disodok pake kontol-kontol lelaki birahi.

Dengan tubuh kaya kamu, gak sulit kok kamu dapet duit banyak. heheheh…. Apalagi yang jilbaban kaya kamu, pasti banyak peminatnya.” tanpa ku sadar, pak Niko telah berdiri di sampingku, dan tanpa basa-basi, ia pun menarik tanganku hingga aku berdiri. Aku ingin menolak dan lari, namun aku sadar bahwa aku tidak lagi punya kuasa. Bahkan pada diriku sendiri. Kini aku telah dikuasai oleh pak Niko. Aku hanya pasrah ketika ia menarik tubuhku hingga berdiri. Dengan penuh birahi, pak Niko menariku ke dalam pelukannya. Dengan rakus pak Niko melumat mulutku dengan mulutnya. tangannya menjamahi dua payudaraku yang masih tertutup jilbab itu. Kurasakan perut buncit pak Niko menekan tubuhku. “Mhhhh….. mphhhhhh….” aku berusaha meronta, menghindari ciuman pak Niko. Namun mulutnya terus mengejar mulutku. Dengan kasar dibaliknya tubuhku hingga aku membelakanginya. Lalu ditekannya tubuhku hingga perutku menempel di tepi mejanya. tanganku berpegangan pada meja agar menopang badanku.

Kini aku dalam posisi agak membungkuk, dengan pantat yang membusung kearah pak Niko. Kini pantatku begitu bebas untuk dijamahinya. Dengan kasar ia meremas pantatku. Aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal di pantatku. Ohhh, ternyata itu adalah Penis pak Niko yang sudah menegang dan mengeras. Sambil menggesek-gesekkan Penisnya di pantatku, salah satu tangan pak Niko juga meremasi bongkahan pantatku yang montok dan padat itu, sedang tangan yang lain kini telah mencengkram salah satu payudaraku yang masih tertutup jilbab. Jilbab itu menjadi kusut akibat remasan Nikogan pak Niko. Aku merasakan bahwa Nikogan pak Niko telah mulai menyusup masuk ke balik jilbabku yang menutup dadaku. Ia meremasi payudaraku dari balik baju kurungku.

 

“Mhhhh…. ahhhh…. ohhhhh….” jeritan- jeritan kecil terlontar dari mulutku ketika pak Niko menyentil ujung payudaraku dengan keras, sementara penisnya yang masih berada di dalam celana itu menekan pantatku ke depan. tangan yang satunya kini telah meremas-remas pangkal pahaku. Mulut pak Niko dengan rakus menggigit leherku yang masih tertutup jilbab warna krem itu, hingga nampak basah bekas gigitan. Kepalaku yang tertutup jilbab krem itu hanya bisa menggeleng-geleng, dan terkadang menengadah ke atas, setiap kali pak Niko menyodokkan penisnya ke pantatku. Kini tangan pak Niko mulai menarik ritsleting baju kurungku yang ada di punggungku. Dengan trampil tangannya menurunkan baju bagian atas baju kurung itu, dan menyampirkan jilbabku ke pundak. Kini pundak dan punggung putihku pun terbuka. Tak lama kemudian, aku merasa bahwa pengait braku di bagian belakang telah terbuka.

Secara umum, bagian atas tubuhku telah setengah terbuka, dan dua payudaraku yang tak seberapa besar itu menggelantung di atas meja. Dengan rakus pak Niko menciumi dan menjilati punggungku, hingga basah oleh liurnya. Kedua tangan pak Niko pun tak henti- hentinya meremas dan memilin dua putting mungilku yang berwarna coklat muda itu. “Ahhhhhhh….. udahhh… lama aku menunggu saat ini…” bisik pak Niko di telingaku yang tertutup jilbab itu. “Mhhhh… ohhhhh…. mhhhhhh…..” desahku. Walaupun aku telah lama tidak menikmati sentuhan pria. Sungguh, aku tetap tidak bisa menikmati perlakuan pak Niko itu. Aku justru merasa terhina, karena penis seorang pria yang bukan suamiku kini sedang menggesek-gesek pantatku yang masih tertutup rok itu.

Selama ini hanyalah mantan suamiku yang pernah menikmati bibirku, menghisap dua putingku yang sedang mengeras, dan menyodokkan penisnya di lubang surgaku yang basah. Saat ini, seorang pria yang bukan suamiku dengan bebas dapat menikmati pantatku, dan Nikogannya dengan bebas memilin dan meremas puting payudaraku. Ohhh, betapa malang nasibku.. Aku dengar suara ritsleting celana pak Niko. Tak lama kemudian pak Niko pun membalikkan tubuhku hingga posisiku berhadapan dengannya. Terlihatlah pemandangan yang membuatku takjub. Penis pak Niko yang menjulang sepanjang 19 cm. Jauh lebih besar daripada milik mantan suamiku. Dengan rakus pak Niko pun menghisap putting payudara kiriku, sementara tangan satunya memilin dan meremas payudaraku yang kanan. Terasa gigitannya pada payudaraku, yang kemudian disentakannya hingga aku menjerit. “Aahhhhhhhhh”. Pantatku kini bersandar pada tepi meja, dengan posisi tangan menekan meja di belakang tubuhku. “Mhhh… ahhhhh….” jeritan dan rintihan yang keluar dari mulutku semakin membakar birahi pak Niko. Pak Niko seringkali menyampirkan kembali ujung jilbabku yang turun hingga menutupi dadaku ke pundakku.

Pak Niko pun kemudian mengangkat rokku keatas. Nampaklah dua kaki dan paha mulusku telanjang, dan secarik kain celana dalam di pangkalnya. Salah satu tangan pak Niko memegangi ujung rok ku agar tak turun, sementara Nikogan lain melebarkan dua pahaku, hingga pangkalnya yang masih terutup celana dalam itu semakin menganga. Kurasakan benda keras mulai menyusuri belahan kemaluanku. Salah satu tangan pak Niko menuntun benda keras itu agar menggesek-gesek dengan belahan Vaginaku yang tertutup celana dalam itu. “Ohhhhh….” walau aku berusaha mengingkarinya, tak dapat kupungkiri bahwa sensasi gatal di Vaginaku mulai kurasakan. Aku pun mulai merasa lemas dan birahi. Aku berada dalam dilema. Aku dipaksa untuk menikmati perlakuan pak Niko, walaupun sesungguhnya aku enggan. Nikogan pak Niko pun mulai mencari-cari ritsleting rokku, dan segera melepasnya. Kini bagian bawahku telah benar-benar telanjang, hanya celana dalam putihku yang masih melindungi lubang kehormatanku.

 

Sedangkan kepalaku dibiarkanya tetap berjilbab, dan payudaraku telah menggelantung indah dengan bekas gigitan dan basah air liur pak Niko. Dengan kasar pak Niko menarik jilbabku hingga aku terjatuh dalam keadaan bersimpuh. Dihadapanku kini sebatang penis pak Niko yang tegang dan mengeras itu. Sambil mengarahkan kepalaku dengan tangannya keaarah penisnya, pak Niko mengatakan “Ayo… kulum kontol bapak…!!!” Dengan perasaan jijik, akupun memenuhi permintaannya. Kepalaku yang tertutup jilbab itu nampak maju mundur. Sementara payudaraku tengah bebas menggelantung, dan bagian bawahku telah telanjang, hanya celana dalam yang tersisa. “Mmphhhhh… mhhhhh…” lenguhku saat penis pak Niko menerobos mulutku. Pak Niko menyuruhku menjilati ujung penisnya hingga lubang kontolnya. Uhhhh…. aku merasa ingin muntah. Mulutku pun penuh oleh penisnya. Tak satu jengkalpun bagian penisnya yang tidak berkesempatan menikmati pelayanan bibir dan lidahku. Bahkan testisnyapun turut aku jilati. Dengan perasaan muak, aku terpaksa melakukan hal itu.

Setelah puas, pak Niko memintaku berdiri. Dengan kasar ia mencengkram pantatku yang masih tertutup celana dalam itu, dan menariknya hingga posisiku membelakanginya. Ia menarik turun celana dalamku, hingga kini tak ada lagi yang melindungi lubang kehormatanku. Pak Niko pun berlutut di belakangku. Kini ia menguakkan bongkahan pantatku lebar-lebar. Kini, lubang anus dan kemaluanku telah mengarah tepat di depan wajahnya. Tiba-tiba aku merasakan sensasi hangat di permukaan anusku. Ternyata Pak Niko telah menjilati anusku. Sensasi geli kurasakan menjalar dari anus ke seluruh badan. Tubuhku terasa lemas setiap kali lidah pak Niko menyentuh permukaan anusku. Aku heran, dia tidak merasa jijik. Setelah ia puas, lidahnya pun berpindah ke belahan lubang Vaginaku. Ia menguakkan bibir bagian luar vaginaku. Tak lama kemudian, ia pun menjilati seluruh permukaannya. Klitorisku tak luput dari jilatan dan gigitan lembutnya. Aku semakin pasrah dengan perlakuan Pak Niko. Kurasakan vaginaku semakin basah, baik oleh air liur pak Niko maupun cairan cinta yang keluar dari dalam vaginaku. “Ohhhhhh…. mphhhhhh…. ampuuunnnn…. jangan diteruskannnnn….” racauku. Slurp… slurppp… terdengar sedoNiko pak Niko di permukaan vaginaku semakin bernafsu.
Tak lama kemudian pak Niko pun berdiri. Ia menarik pinggulku ke belakang, hingga pantatku dan vaginaku semakin terkuak lebar. Tiba-tiba, aku rasakan sebatang penis yag keras telah melesak masuk ke dalam liang kenikmatanku dari bagian belakang. Aku merasakan pedih pada dinding vaginaku saat batang penis pak Niko bergesekan dengan dinding liang kenikmatanku, yang selama ini terjaga dari penis pria selain suamiku. “Ahhhhhhhhhhhhhhhhh…..” lengkinganku saat penis pak Niko disodokkan dengan keras. Rasanya lubang vaginaku hampir terbelah. “Ouhhhh…. Mardaiii….. Memekmu enak banget… udah lama bapak nggak ngrasain Memek kaya punyamu… mhhhh… ouhhhhh…. akhhhhhh…..” racau pak Niko sambil menggenjot lubang Memeku. “Cepok, cepok, cepok…” suara pinggul pak Niko saat bertumbukan dengan bongkahan pantatku yang sedang membusung ke arahnya. Aku sedang dinikmati dengan posisi doggy. Aku heran, ia nampaknya memang begitu terobsesi dengan pantatku, hingga selama memakaiku pun ia lebih banyak meremas pantatku daripada dua payudaraku.

“Ohhhh… mhhhh…. oughhhhh….” badanku bergoncang-goncang. Kepalaku yang berjilbab itu hanya mampu menggeleng dan mendongak ke atas. Payudaraku bergoyang seiring hentakan penis pak Niko di dalam liang kenikmatanku. “Mmhhhhhh… ahhhhhh… mhhhhh….” rintih dan jeritku setiap kali penis pak Niko melesak dalam vaginaku. “Mardaaaaf…. memekmu masih serettttt…..” racau pak Niko. “Kepalamu berjilbab bikin aku tambah ngaceng… ouhhhh….. Bapak ketagihan diservis sama tempikmu….. enak bangetttt….. walaupun janda tapi tempikmu masih nggigit” “Mhhhh.. ouhhhhh…. akhhhhhhh….” jawabku dengan desah dan rintih. Masih dalam posisi dogy, pak Niko tiba- tiba menarik penisnya keluar dari vaginaku. Kini tubuhku yang lemas hanya bisa terbaring tengkurap diatas meja. Kepalaku yang masih berjilbab aku sandarkan di meja, sedang dua tanganku terentang berpegang pada tepian meja. Sementara itu, aku merasakan cairan dingin di anusku. Aku hanya bisa pasrah. “Mmhhhh…. silitmu kayanya masih prawan nihh… sini, biar bapak prawanin” Aku ketakutan, dan berusaha menolak. “Udahhh, jangan nolak… kok beraninya kamu nolak permintaan bapak…” Akupun pasrah. Cairan itu adalah cairan pelumas. Aku merasakan kepala penis pak Niko mulai menempel di lubang matahariku. Perlahan-lahan, kepala penis itu mulai menguakkan lubang matahariku. Kurasakan kepala penis itu semakin dalam masuk ke dalam anusku. Rasanya sungguh perih, walaupun telah dibantu oleh cairan pelumas itu. Pak Niko pun mulai mempercepat genjotannya dalam anusku.

 

“Akhhhhh….. ouhhhhh….” terasa panas di dinding anusku akibat gesekan penis pak Niko itu. “Oouhhhhh…. sakkkkiiiiittt….. ahhhh.. akhhhhhh….” jeritku. Sambil menggenjot anusku, kedua tangan pak Niko meremasi kedua payudaraku. Bahkan satu Nikogan pak Niko menarik ujung jilbabku ke belakang, hingga kepalaku terdongak keatas. “Mhhh ohhh… akhhhhh….” jeritku kesakitan. Pak Niko nampaknya telah hampir klimaks. Iapun segera menarik penisnya dari anusku. Seperti kesetanan ia melompat ke atas meja lalu membalikkan tubuhku hingga terlentang di atas meja. Kini posisinya duduk berlutut dengan penis yang mengarah ke wajahku. Dua pahanya mengangkangi wajahku. “Akhhhhhhhhhhhhhhh………..” teriakan pak Niko yang telah klimak itu. Crott……… crorttt…. crottttt….. cairan putih kental yang berbau tak sedap itu pun menyembur ke wajah dan mulutku. Aku hanya memejam, agar cairan itu tak masuk ke dalam mataku. Sebagian telah tertelan. Jilbabku basah oleh cairan kental berbau amis itu, begitu pula baju kurungku. Kulihat pak Niko terengah- engah setelah mencapai klimaks. Aku hanya terlenNikog lemas setelah satu jam ia menikmati semua lubang kepuasan di tubuhku. “Tempik sama silitmu memang hebat Sof… Bapak ketagihan buat makek kamu.

Selama setahun bapak cuma bias ngremesin pantatmu, sambil bermimpi suatu saat bisa njebol lubang silitmu….” kata pak Niko. Aku sebetulnya merasa tersinggung dengan ucapannya. Harga diriku telah hilang sekarang. Kini aku harus siap untuk dinikmatin kapan saja oleh pak Niko. Aku tak bisa berbuat apa-apa kini. Setelah beristirahat selama 30 menit, sambil aku menangis sesenggukan, aku pun minta ijin kepada pak Niko untuk membersihkan diri di kamar mandi yang ada di ruangnya. “Oohhhh, tidak usah… kamu kan capek sekarang saatnya kamu yang dilayani” kata pak Niko. “Maksud bapak?” jawabku. “Biar pak Edo saja yang bersihkan tubuh Marda… heheheh” Ouhhhh…. laki-laki gila… belum puas ia menghancurkan kehormatan dan harga diriku.. kini aku harus rela dijamah oleh satu pria lagi.

Cerita Dewasa Nikmatnya Kontol Besar Pak Niko – Nampak Pak Niko menelpon dengan HPnya, menyuruh pak Edo masuk sambil membawa ember air hangat dan lap basah. Tak lama pak Edo pun masuk. Ia sungguh terkejut melihatku dalam keadaan berjilbab, namun dengan baju kurung yang terbuka setengah, hingga payudaraku menggelantung indah, dan bagian bawah yang telah telanjang bulat. “Lhoooo, mbak Marda?” tanya pak Edo keheranan. Aku hanya tertunduk malu, sementara aku tahu bahwa mata pak Edo tidak lepas memandang tubuh telanjangku. “Tenang pak Edo”, kata pak Niko pada pak Edo. “Mbak Marda barusan kerja keras, jadi dia sekarang gerah dan capek…. hehehehe… makanya dia kepengen bersihin badannya. Kan kasian, daripada dia bersihin badannya sendiri, kan lebih baik diladenin sama pak Edo… hehehh…” “Maksud bapak?” tanya pak Edo masih kebingungan. “Maksudnya ya tolong pak Edo ngelapin tubuhnya mbak Marda, terutama bagian lubang tempik sama silitnya itu. Gimana pak Edo?” “Haaaaa, bapak beneran?” tanya pak Edo tidak percaya. “Beneran… sudah, nggak usah banyak omong… bapak mau gak?” tanya pak Niko. “Mauuu… mau… iya pak… mau….” sorak pak Edo. “Ya udah sana…” pak Niko menyahut.

“Ayoooo, sini mbak Marda… cah ayuuu…. biar bapak ngelapin tempikmu” seru pak Edo kegirangan. Aku hanya menunduk. Tapi badanku sudah terlalu lemah, sehingga aku hanya bisa pasrah saat pak Edo menggandengku menuju kamar mandi. Ia pun melucuti seluruh sisa pakaianku termasuk jilbabku, sehingga aku telanjang bulat. Dengan lap basah, ia ia mulai membasuh tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Saat menggosok liang vaginaku, ia pun berkomentar.. ”Wahhhh, tempiknya mbak Marda ini masih sempit yah” sambil jarinya meyentil- nyentil klitorisku. “Beda sama tempiknya lonte lokalisasi.. udah pada lower” Aku hanya terdiam sambil menahan tangisanku. Pak Edo memelukku dari belakang. Satu tangannya meremasi payudaraku, sedang tangan lainya sibuk menggosok vaginaku. “Mbak, yang bagian dalem tempik mbak belum dibersihkan, biar kontol bapak nanti yang gosokin bagian dalem tempiknya mbak… hahahaha”, kata pak Edo.

 

Pak Niko berdiri di pintu kamar mandi senyum-senyum melihat ulah pak Edo kepadaku. “Kontol bapak udah ngaceng niyy. Wahhh… mimpi apa bapak semalem.. selama ini bapak cuma mbayangin ngentu mbak Marda… impian bapak jadi kenyataan” “Pak Edo, itu jilbabnya dipakein lagi. Lebih ngacengin kalo make jilbab” “Siapp bosss…” kata pak Edo. Setelah selesai membersihkan diriku, aku pun disuruhnya lagi memakai jilbab, namun dengan tubuh yang telanjng bulat. Kini telah kukenakan jilbab warna kremku yang masih ada bercak-bercak sperma pak Niko. “Pak Edo, ini uang buat pak Edo” Pak Niko mengeluarkan uang seratus ribuan dan diberikan pada pak Edo. “Syaratnya, pak Edo harus tutup mulut tentang rahasia di kantor ini… ya, sekarang, pak Edo boleh nikmatin mbak Marda sepuasnya. “Siap bossss” kata pak Edo. Pak Edo mendorongku ke sofa di ruang pak Niko. tanpa basa-basi ia pun mengeluarkan penisnya yang berukuran 20 cm. Dengan kasar ia menarik jilbabku hingga kepalaku mengarah ke penisnya. “Ayo,dimut mbak… kontolnya bapak sudah lama nggak dibasahin nih…” kata pak Edo disambut dengan tawa pak Niko.

tanpa aku sadar, pak Niko telah datang dengan membawa sebuah handicam untuk merekam persetubuhanku dengan pak Edo. “Hehehe, kamu memang cocok jadi bintang bokep. Apalagi bokep cewek berjilbab hehehehe…” “Mhhhh… oukhhhhh……” kepalaku yang berjilbab itu maju mundur mengulum penis pak Edo yang keras. Laki-laki duda berusia 47 tahun itu nampak merem melek menikmati kulumanku. Ia duduk di sofa, sedangkan aku kini tersimpuh di lantai ruang itu. “Ohhh… mbak Marda… ohhhh… kuluman mbak lebih enak dari lonte pelabuhan hhhhhh… mhhhh..” Setelah puas dengan mulutku, pak Edo menyuruhku untuk terlentang di sofa. Dengan rakus, ia pun mengulumi payudaraku, dan menggigit-ggit putingnya yang mungil kecoklatan itu… “Owhhhh… mhhhh… pak TaNikog…. sakkkittttt….” Pak Edo semakin liar, mengulum putingku. Satu tangannya memilin-milin payudaraku yang lain, sedang tangan satunya lagi memainkan klitorisnya. Kini aku merasakan kegelian, kurasakan jari- jari pak Edo menusuk-nusuk liang vaginaku. Pak Edo kemudian melebarkan kedua pahaku dan blessssssssssssssssss…. penis pak Edo pun terjepit dalam liang nikmatku. Tubuhku terguncang- guncang, sementara tangan pak Edo sibuk memilin-milin putingku.

”Oohhhh, mbak Marda…. tempikmu enak banget….. bapak belum pernah ngrasain tempik kaya punya mbak Marda…” Tiba-tiba pak Edo menghentikan genjoNikonya, dan menarik penisnya. Ia membalik tubuhku hingga tengkurap, lalu menyuruhku menungging. Aku hanya pasrah mengikuti arahan pak Edo. Dalam posisi menungging, sekali lagi pak Edo menyodokkan penisnya dalam liang nikmatku. Dengan sodokan- sodokanya yang keras, tubuhku pun terguncang-guncang. tangannya meremasi payudaraku dan sesekali menampar paha dan pantatku hingga terasa pedih. Aku diperlakukannya seperti seekor kuda tunggangan atau sebuah boneka seks. Aku hanya bisa pasrah menerima perlakuan itu.

“Mhhhh,… tempik lonte jilbaban ternyata enak… mhhhh…ouhhhh” racau pak Edo saat penisnya terjepit dalam liang kenikmatan. Pak Edo yang telah lama menduda, dan selama ini memuaskan hasrat seksnya dengan pelacur pelabuhan, yang tentu saja tua-tua dan tidak higienis. Kini penis pak Edo berkesempatan untuk menikmati liang vagina seorang wanita muda berjilbab, yang liang vaginanya selalu terjaga dan terawat. Bahkan pria kaya dan tampan pun belum tentu kuijinkan untuk bisa menjepitkan penisnya dalam lubang vaginaku, kecuali menikahiku, namun kini, seorang pesuruh kantor yang tua malah berkesempatan menikmati liang vagina miliku dengan gratis… ohhhhh… nasibku…. Bukan hanya liang vaginaku, penis pak Edo pun kini telah merasakan pula jepitan lubang anusku. Kali ini tidak terlalu sakit… justru anehnya, akupun mulai menikmati permainan pak Edo. Pak Edo menarik penisnya, lalu menarik jilbabku hingga kepalaku mendekat kearah penisnya. tangan satunya sedikit mencekik leherku, sehingga mulutku terbuka, dan “Akhhhhhh….” teriakan pak TaNikog saat orgasme.

Crotttt… croootttttt… croottttt…. cairan putih hangat masuk seluruhnya ke mulutku. Bukan hanya itu, pak Edo pun menyuruhku untuk menelan semua spermanya. Hueekkkkkkk…. rasanya muak sekali. Namun aku terpaksa nampak sisa-sisa sperma mengalir dari sela-sela bibirku, hingga menambah noda di jilbab kremku. Sisa-sisa sperma yang ada di lantai dan sofa pun harus kujilati pula. Semua adegan itu direkam oleh pak Niko. Pak Niko mengancam, jika aku melaporkan kejadian ini pada polisi, atau tidak mau menuruti kehendaknya, maka video itu akan tersebar.

Kejadian di kantor saat itu barulah sebuah awal penderitaanku. Pak Niko ternyata menjualku pada para pria hidung belang, bukan sekedar untuk membayar hutangku, namun juga untuk membiayai bironya yang hampir bangkrut itu. Dengan jilbab di kepala dan wajahku yang keibuan, banyak bos-bos yang rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk diberikan pada pak Niko, demi memperoleh kesempatan menjepitkan penisnya ke dalam liang vagina dan anusku, dengan tetap mengenakan jilbabku. Aku heran, beberapa orang yang memakaiku justru lebih suka menganalku disamping menyodok vaginaku. Ramuan keluarga yang aku gunakan membuat lubang anusku selalu sempit, bersih dan tidak berbau busuk. Bahkan lebih ‘menggigit’. Bahkan pak Niko pernah sekedar iseng mengumpankanku pada sekelompok supir truk yang sedang mabuk, sehinga aku disetubuhi beramai-ramai di atas bak truk. Dia memasangiku kamera kecil, sehingga ia bisa merekamnya dari mobilnya yang parkir di suatu tempat.

Tags: #cerita dewasa #cerita mesum #cerita ngentot #cerita ngewe #cerita porno #cerita sex terbaru

vimax
Agen Betting Terpercaya Obat Pembesar Penis
Obat Pembesar Penis Obat Pembesar Penis

Tinggalkan pesan "Cerita Dewasa Nikmatnya Kontol Besar Pak Niko"

Penulis: 
    author